Tari
Submitted by admin on Mon, 01/04/2016 - 11:31.
________________________________________
Pertunjukan tari Bines di Kampung Lemik, Blangkejeren, Gayo Lues, pada Bejamu Saman tanggal 7 November 2012.
Submitted by admin on Mon, 01/04/2016 - 11:31.
________________________________________
Pertunjukan tari Bines di Kampung Lemik, Blangkejeren, Gayo Lues, pada Bejamu Saman tanggal 7 November 2012.
Submitted by admin on Mon, 01/04/2016 - 11:31.
________________________________________
Seorang pria dari kampung/desa lain yang diundang dalam Bajamu Saman, memberikan uang pada penari Bines yang diletakkan di
Submitted by admin on Mon, 01/04/2016 - 11:28.
________________________________________
Arena pentas Bejamu Besaman yang diadakan di Kampung Lemik, Blangkejeren.
Oleh Dr. Rajab Bahry, M.Pd.
A. Pendahuluan
Hampir setiap masyarakat atau suku mempunyai budaya yang menonjol dan masih dipelihara dan dipertahankan oleh masyarakat yang bersangkutan, dan mungkin saja budaya dari masyarakat tersebut malah digemari oleh masyarakat lain sehingga dikenal secara nasional dan mungkin juga dikenal secara internasional. Budaya yang ada pada setiap daerah tidak bisa dilepasakan dari bahasa karena bahasa tersebut sebagai alat pengembangan budaya. Dengan demikian, pengembangan budaya selalu seiring dengan pengembangan bahasa.
Oleh: L.K. Ara
Atif seorang lelaki desa tinggal di Blangkejeren, Kab. Gayo Lues, mempunyai keahlian bermain Tari Saman Gayo. Sebagai syeh, Atif telah beruntung dapat menjenguk negeri Amerika Serikat. Ketekunan dan kebolehannya bermain tari Saman telah membawa keberuntungan bagi pegawai kantor kecamatan Depdikbud ini dapat melihat sejumlah kota besar di negeri Paman Sam itu, seperti Washington DC, Los Angelos dan lain-lain. Kesempatan itu diperolehnya ketika berlangsung KIAS, kesenian Indonesia di pagelarkan di Amerika Serikat tahun l990.
Oleh Hasnan Singodimayan
Judul diatas terjemahan dari bahasa Arab “Hadara Kuntu Lailan”, kemudian diadopsi dalam bahasa Using, menjadi “Handrah Kuntulan”, sering disingkat dengan nama “Kuntulan”. Suatu bentuk kesenian yang sama dengan “Saman” di Aceh.
Rupanya nuansa malam bagian dari kerinduan bangsa Arab untuk dipuja dan dinanti – nanti, sama dengan kerinduan bangsa Nusantara pada pantainya, pada gunungnya. Baik yang berada di Serambi Makkah, maupun yang berada di Selat Pulau Dewata, Seribu Pura.
Oleh Murahim
Setiap daerah memiliki satu bentuk kesenian yang menjadi identitas daerah tersebut. Masing-masing bentuk kesenian daerah merupakan ciri khas dan menjadi corak budaya daerah asal kesenian itu. Oleh karena itu, kesenian daerah merupakan puncak-puncak budaya yang terdapat di daerah dan menjadi simbol masyarakat pemiliknya. Terciptanya suatu kesenian (pertunjukan) secara konseptual akan berpedoman pada sistem nilai budaya yang mengelilinginya dan khas sesuai dengan budaya daerah tersebut (Bandem, 1988:50).
Oleh Ediwar
Sekilas Kesenian Bernuansa Islam Masa Lampau
Kesenian bernuansa Islam tumbuh dan berkembang pada awalnya di lingkungan surau. Pada zaman keberjayaan surau, kesenian bernuasa Islam tersebut lebih mengutamakan ke arah penyempurnaan pola hidup di dunia dan menuju akhirat. Seni bernafaskan Islam pada masa-masa itu lebih mengutamakan memperhalus rasa dan pikiran, karena itu setiap kegiatan syarak disegarkan oleh kegiatan kesenian bernafaskan Islam.
Oleh : Ridhwan Abd Salam
(Penulis buku Tari Saman, dan Dosen di FKIP Universitas Muhammadyah Prof. Dr. Hamka Jakarta)
Pages
Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by
WeebPal.