Seni Kuntulan: Hadirnya Setiap Malam dan Semalam Suntuk

Oleh Hasnan Singodimayan

Judul diatas terjemahan dari bahasa Arab “Hadara Kuntu Lailan”, kemudian diadopsi dalam bahasa Using, menjadi “Handrah Kuntulan”, sering disingkat dengan nama “Kuntulan”. Suatu bentuk kesenian yang sama dengan “Saman” di Aceh.

Rupanya nuansa malam bagian dari kerinduan bangsa Arab untuk dipuja dan dinanti – nanti, sama dengan kerinduan bangsa Nusantara pada pantainya, pada gunungnya. Baik yang berada di Serambi Makkah, maupun yang berada di Selat Pulau Dewata, Seribu Pura.

Mereka sama – sama mengembangkan “Hasrah Kuntu Lailan” itu menjadi Nusantara, menjadi Indonesia, tanpa adanya jeritan lantang yang merindukan “Laila Majnun”, tergila – gilanya pada malam layalan (ditafsirkan sebagai sosok perempuan dan diangkat dalam ceita yang sama dengan Romeo dan Julia, Qais dan Laila). Tetapi beralih pada gerakan gerakan singkronis yang serempak oleh remaja Aceh, seiring dengan lantunan vokalnya. Pemujaan pada Tuhan dan Rasulnya.

Di Banyuwangi “Hadrah Kuntulan” memproses menjadi “Kuntulan” dengan gerakan yang lebih mengarah pada gerakan pencak silat, dilakukan oleh para santri di desa–desa yang bukan dari kalangan “Pesantren”. Sebab dikalangan santri dari pesantren, masih memiliki “Hadrah Shalawat” yang dilakukan dalam bentuk ritual dimasjid – masjid dan sejumlah surau dengan pembacaan Kitab “Al Barzanji” lengkap yang disebut “Dibaan atauu Tibaan” dengan gerakan mengangkat tangan kanan dan kiri dengan gelengan kepala semacam dzikir.

Berlainan dengan Hadrah Kuntulan dari kalangan santri yang bukan dari pesantren di desa – desa gerakannya jauh lebih dinamis, ketika “Mahalul – Qiyam”, suatu bentuk “Dramatisisasi” dengan cara berdiri ketika menyambut kelahiran Rasullah dengan membaca puisi “Asraqal”

“Ya Nabi, Salamun alaika

Ya Rasul, Salamun alaika

Ya Habib, Salamun alaika

Shalawatullah alaika

Asraqal badru alaina

Fahtaful minhu buduri

Misla Husnika ma raina

Faqat ya waj – hah sururi “

            Tetapi tidak dibacakan secara lengkap sampai 22 bait, seperti umumnya yang dilakukan dalam acara dibaan oleh para santri dari kalangan pesantren, ketika melakukan “Hadrah Shalawat”. Sedang “Handrah Kuntulan”, hanya mengambil bagian sedikit dari sejumlah puisi yang ada pada “dibaan”. Terhimpun dalamm Kitab “Jumlatul Syarif” (Kumpulan dari sejumlah kemulyaan ). Sehingga durasi pembacaannya semalam suntuk.

Hadrah shalawat, membaca Kitrab itu secara lengkap, baik yang berbentuk puisi, maupun yang puisi prosa sering disebut “Si–iran”. Puisi Malalul qiyam, sebanyak 22 bait dibaca seluruhnya . Puisi pujaan pada bait, dibaca secara tuntas.

Sedang di kelompok hadrah Kuntulan hanya dibaca 4 bait ;

“Assalamuaika Zaenal Anbiya

Assalamualaika Azkal Azquja

Assalamualaika Atkal Alqiya

Assalamualaika Asfal Asfiya“

Dan berakhir pada Sholawat Badar, sejumlah 37 bait, dibaca hanya 4 bait “                   

“Sholatullah, salamullah

Ala Toha, Rasulullah

Sholtullah, Salamullah

Ala Yasin, Habibullah

Tawakalna, Bi – Bismillah

Wa bil hadi, Rasulullah

Bi Ahli Badri, Ya Allah “

Pemenggalan pada sejumlah puisi itu, bertujuan hanya memungut intinya yang dimengerti artinya, apalagi vokal lain yang mengisinya, bersumber dari lagu – lagu daerah yang bernuansa Islami, seperti gending Salawiyah, gending Wa anjani, Solatan Wa Haslimun, Tombok ati dengan gending penutupnya, berupa bacaan Solawat dengan timpalan terbang Yahum, terbang tirim dan terbang jos.

Perkembangan Hadrah kuntulan yang bergeser dari Hadrah Sholawat, didukung oleh kalangan remaja, sebab penampilan “Rodat” ketika adegan “Mahalul – Qiyam” punya kebebasan untuk mengekresikan gerakannya dengan pola pencak  - silat dengan dialog – dialognya yang menimbulkan cerita semacam pasukan yang siap berperang.

Pengeseran itu terjadi sekitar tahun – tahun proklamasi dan perjuangan kemerdekaan (1945 – 1955 ). Dialog – dialog yang sering diucapkan, berupa perintah perang, semacam ucapan “Siap ! Hormat ! maju ! Tembak ! Tembak  sekali, dua kali, tiga kali, sambil bergerak dan bersilat”.

Lagu – lagu yang dinyanyikan juga lagu – lagu perjuangan, seperti Garuda Pancasila, Maju Tak Gentar, Hallo – Hallo Bandung, Berkibarlah Benderaku, tetapi dengann lirik yang tidak pernah utuh, terpotong – potong pada lirik yang mudah di hafal.

Untuk menunjang nuangsa perang itu, para pelaku rodat mengenakan seragam seperti “Tentara Laut masa kemerdekaam” yaitu baju putih, lengan panjang celana puitih, berpeci putih yang berujung runcing, seperti paru burung, berkaus kaki putih, tanpa sepatu. Pimpinan Rodat  menggunakan pangkat dipundaknya.

Karena seragamnya yang serba putih itu dan gerakannya yang lincah masyarakat awam menamakan “Hadrah Kuntulan” itu seperti burung kuntul, sejenis dengan burung bagau putih (Leptop lipas Javanicus). Maka nama yang dikenalnya adalah Kuntulan (Suatu karakter masyarakat Using dalam penyebutan sesuatu).

“Rodat” merupakan kelompok yang bertugas “mengepresikan” bacaan Sholawat dalam gerak. Pada Hadrah Sholawat, terbatas pada gerakan bersimpuh, sambil mengankat badan dan tangan. Semacam gerak takbir, tetapi pada Hadrah kuntulan, dipola dengan gerakan pencak silat, sesudah Mahalal qiyam.

Penampilan itu sangat indah, untuk ditonton, Sejumlah seniman yang ikut menangani secara khusus penampilannya, termasuk penambahan alat perkusi, bukan cuma dengan 8 terbang dan rebana dengan timalan yahum, timpalan joss dan timpalan tirim, tetapi ditambah dua buah jedor kecil, sebagai pentas dan satunya sebagai penerus dan satu jedar besar yang berfungsi sebagai gong.

Pernah dalam satu deka Hadrah Kuntulan itu diperlombakan dalam bentuk Festiwal, berhubung jumlah Hadrah Kuntulan itu hampir mencapai puluhan kelompok ketentuan telah diatur oleh intitusi yang berwenang membinanya yaitu Kesra Pemda,  Dekdikbud, Pariwisata dan Dewan Kesenian.

Setiap penampilan ditentukan durasinya, jumlah penari rodatnya, jumlah penari rodatnya, alat perkusinya, bentuk atraksi yang disuguhkan. Arasmenya dan lagu lagu yang disajikan. Penampilan Hadrah kuntulan dalam festival itu, telah merangsang para pengamat, para Koreagraf, para musisi etnis dan para praktisi desainer untuk mengankat pelaku “Rodat”nya itu dengan “Rodat Perempuan”. Maka lahirlah kemudian “Kuntulan Wason”.

Munculnya Kuntulan Wadon, merupakan satu penomena yang sangat mengejutkan. Hanya dalam waktu beberapa dekade jumlah Kuntulan wadon hampir mencapai 100 grup atau kelompok. Hampir setiap desa dan Kelurahan di Banyuwangi, berdiri grup Kuntulan Wadon, termasuk yang disekolah – sekolah.

Festival dan lomba kuntulan wadon, kian semarak setiap tahun diarena gelanggang seni dan Budaya (Gesibu) Blambangan. Penyelenggaraan, tidak cuma oleh Kesra Pemda, Dekdikbud dan Pariwisata. Intitusi lain seperti Depag, Kepolisian, KNPI dan PWI, ikut menyelenggarakan kegiatan itu dalam bentuk lomba diarena lain yang lebih luas.

Sejumlah penari Rodat yang molek – molek, telah menarik perhatian masyarakat, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejumlah Pimpinan DKB telah dipanggil oleh MUI, untuk menerima suatu saran dan masukan, kepada semua komponen yang menangani “Hadrah Kuntulan Wadon” untuk tidak membunyikan gong dan gendang, disaat melafalkan bacaan Sholawat “Sebab penampilan Kuntulan Wadon, banyak nilai erotisnya pada pinggul daripada gerak selatnya. Suatu pemahaman yang terbatas, tetapi masih bisa ditampilkan dalam batas etestika.

Sebab Kuntulan Wadon, sarat dengan Kreatifitas, baik koreografnya maupun musiknya, unsur tari Gandrung dari tari Jinggoan.telah telah memperkaya geraknya. Kemudian untuk menghindari klaim dari berbagai pihak dan untuk menghindari konflik. Maka lahirlah kemudian “Kuntulan Dadaran” atau “Kundaran”. Merupakan garis penegasan, jika Kundaran, bukan berasal dari seni Hadrah.

Busananya sangat semarak, tetapi masih dalam kajian menutup aurat. Kuntulan Wadon atau Kundaran, pernah diikut sertakan pada Fistival “Hadrah”, tingkat Propinsi Jawa Timur di Surabaya (1977 ) dan dikut sertakan dalam Festival Istiqlal 1991 dan 1995, mewakili Jawa Timur dengan tema : Islam dan Kebudayaan Indonesia. Dulu, kini, dan Esok. Berhasil meraih nominasi sepuluh besar yang terbaik.

Sebab penampilan Kundaran berbeda jauh dengan penampilan Seni Hadrah dari Propinsi lain di nusantara, nuansa Islaminya hanya dominan pada vokal Hadrah Kundarann terlihat pada geraknya disamping vokal. Penghayatan koreograf dari tari Gandrung dan Tari Jinggoan, serta lengkapnya, musik etnis yang mengiringnya, membuat Kundaran kaya dengan kreatifitas.

Gerak mengambil air wudlu yang berlajut pada gerakan Shafin (bukan Zafin) yang berjajaran seperti gerakan berbaris sholat, membiat Kundaran tampak hidup. Bersimpuh dan sujud, serta menggelengkan kepala kekanan dan kekiri, hampir sama dengan Saman. Merupakan penampilan yang enak di tonton.

Penampilan Kundaran, bulan Cuma diatas pentas, sering dilakukan dalam bentuk “Pawai”, ketika memeriahkan hari besar Nasional dan hari – hari besar agama. Tetapi julah penari Rodatnya jauh lebih banyak. Diatas pentas terbatas sekitart 6 -12 orang.Ketika pawai lebih dari 30 orang, busananya jauh lebih cerah, sebab tidak didukung oleh permainan tata lampu. Pawai Ta’aruf MTG Jayim, kundaran jadi langganan.

Perkembangan seni Kundaran atau Kuntulan, tidak terbatas hanya di wilayah Banyuwangi oleh etnis Using, tetapi menyentuh pada wilayah tetanngga. Pernah muncul di Jember dan Sitrubondo. Tetapi yang sangat mengesankan, perkembangannya di Bali, jauh lebih rampak, menonjol warna Balinya dengan adanya alat belenganjur dan gherakann kecak. Berkembang di desa Kadonganan. Kecamatan Melayu, Kabupaten Jembrana.

Secara kwantitas perkembangan Kundaran mulai terasa berkurang secara selektif, tetapi secara kwalitatif, terlihat lebih berkembang. Diakui secara nasional sejajar dengan kesenian Gandrung, Jinggoan, Angklung dan Tari kreasi yang lain sebagai tari profan.

Meneliti pada sejarah perkembangan, sejarah Fhadrah sebelum perang dunia kedua sampai sekarang. Ketika masih merupakan kegiatan ritual dalam Hadrah Sholawat oleh para santri dari pesantren di Masjid – masjid dan si surau. Dan perkembangan lebih lanjut oleh para santri yang bukan dari pesantren, berupa Seni Kuntulan, garus batasnya masih terlihat sakral dan ritual. Tetapi ketika menjadi “Kuntulan Wadon”, maka perkembangannya sudah mendekati profan. Dan garis pemisahnya ketika Seni Hadrah Kuntulan menjadi “Kundaran”.

Proses itu seperti pengulangan sejarah budaya seni Gandrung. Sebab perkembanmgan kesenian Gandrung yang sebermula merupakan kegiatan ritual yang disebut “Sanghyang Wedari”. Kemudian menjadi tari “Seblang” yang masih dalam ranah ritual. Tetapui “Gandrung  Lanang” di jaman Marsan, merupakan seni profan dalam menyampaikan pesan – pesan perjuangan melawan penjajahan, kemudian menjadi “Gandrung Wadon” di jaman Semi, merupakan garis pemisah, sebagai seni yang benar – benar profan sampai sekarang. Dan proses lebih lanjut sebagai tari pergaulan yang disebut “Jejer Gandrung”.

Pada tanggal 18 November 2012, kemarin telah ditampilkan secara massal dipantai Boom Banyuwangi dengan seribu panari Gandrung dalam proses sejarahnya yang diawali dengan penari Seblang Sang HYang Widari diatas Mahkolta Omprok Raksasa. Kemudian muncil Gandrung Lanang dengan tariannya yang gemulai, mengajak penari Seblang turun kebawah diatas pentas dibawah omprok raksasa. Kemudian dari segala arah lapangan pantai yang luas, bermunculan ratusan Gadrung, sehingga membentuk seribu Gadrung dalam bentuk Jejer Gandrung. Mereka menari serempak dihadapan puluhan ribu penonton yang memadati pantai Boom Banyuwangi.

Perekembangan Seni budaya di Banyuwangi dengan proses sejarahnya baik dahulu maupun sekarang, baik Kuntulan maupun Gandrung, berada pada “Teori lingkaran” yaitu lingkar berkebudayaan dan lingkar keberagamaan yang dilaksanakan secara prates silapangan. Sehingga tidak pernah terjadi pergesekan antar agama dan seni Budaya.

Sebab setiap agama dan kepercayaan, te;ah menempatkkan dirinya pada lingkaran masing – masing dalam porsinya. Lingkaran – lingkaran itu, tidak berjauhan satu sama lain, tetapi berhimpitandan bersententuhan.Tetapi tidak sampai memasuki lingkaran yang lain, diantara sekian banyak lingkaran keberagamaan itu, ada lingkaran yang lebih besar yang disebut lingkaran berkebudayaan Indonesia.

Maka prosess perkembangan seni budaya di Banyuwangi, baik Gandrung dan Kundaran, terus berkembang menurut fitrahnya, sebab lingkar berkebudayaan telah berlaku secara praktis di Bumi Blambangan Banyuwangi. Gandrung yang bersumber dari Sang Hyang, teruss berkembang dan Kundaran yang berasal dari Hadrah Sholawat, tetap menggeliat.

Semoga perkembangan itu tetap berlanjut dan dapat dicontoh oleh daerah lain dengan teori lingkaran keberagamaan dan lingkaran berkebudayaan. Kebudayaan Indonesia. Dulu, kini dan esok.

 

Banyuwangi, November 2012

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.