Tari Saman: Perkembangan, Pelaksanaan, dan Fungsinya

Oleh Dr. Rajab Bahry, M.Pd.

A. Pendahuluan

Hampir setiap masyarakat atau suku mempunyai budaya yang menonjol dan masih dipelihara dan dipertahankan oleh masyarakat yang bersangkutan, dan mungkin saja budaya dari masyarakat tersebut malah digemari oleh masyarakat lain sehingga dikenal secara nasional dan mungkin juga dikenal secara internasional. Budaya yang ada pada setiap daerah tidak bisa dilepasakan dari bahasa karena bahasa tersebut sebagai alat pengembangan budaya. Dengan demikian, pengembangan budaya selalu seiring dengan pengembangan bahasa.

Dianalogikan dengan dari pernyataan di atas, pengembangan budaya dapat dirujuk dari fungsi bahasa  daerah yang diantaranya sebagai sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, serta pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia (Alwi, 2003: 234) Budaya daerah merupakan hasil pemikiran filosofis masyarakat pemiliknya yang menggambarkan segi kehudaupan yang telah dijalaninya secara turun temurun. Budaya daerah yang berkembang pada masyarakat itu semua mengarah pada budaya nasional yang perlu kita pelihara, dan budaya yang berasal dari bahasa daerah tersebut merupakan kebanggaan dari penutur bahasa tersebut. Kebudayaan dari Provinsi Aceh sudah banyak yang dikenal secara nasional, misalnya Saman, Seudati, Rapai Geleng, Ratoh Duk, Ranup Lam Puan, dan lain-lain.

Salah satu budaya dari Provinsi Aceh yang telah populer secara internasional adalah Saman yang berasal dari daerah Gayo dan (mungkin) baru inilah tarian yang menjadi Warisan Budaya Dunia Takbenda yang berasal dari Indonesia. Ini merupakan kebanggan bagi Indonesia. Dalam dokumen Unesco telah dicantumkan bahwa Saman merupakan kesenian yang “Urgent Safeguarding” sehingga memerlukan pemikiran yang jernih dan juga cara yang arif dalam pelestariannya. Usaha keras yang positif dari semua pihak sanghat diharapkan karena pengakuan dari badan dunia, seperti Unesco, bukanlah hal yang mudah didapat. Pengakuan ini akan ditinjau kembali sehingga jika terjadi kemunduran Saman dalam batas yang ditentukan, pengakuan tersebut akan dicabut kembali. Jika ini terjadi, tentu merupakan kerugian besar bagi negara Indonesia.

Oleh karena itu, sebelum dilakukan usaha pelestarian, semua elemen masyarakat atau pemerintah harus mengetahui secara pasti yang mana yang dimaksud dengan tari Saman. Hal ini perlu dipahami agar tidak terjadi salah pelestarian. Artinya, ada yang (merasa) berusaha melestarikan saman, malah yang terjadi sebaliknya yakni mengaburkan bentuk saman. Usaha pelestarian ini sudah dimulai oleh Dinas Pariwisata Aceh dengan cara mengadakan workshop bagi calan pelatih Saman sebanyak 180 orang yang berasal dari seluruh kabupaten di Aceh. Selain itu, Balai Pelestarian Sejarah pada  8 Desember 2012 telah mengadakan festival saman bagi siswa SMA se-Kota Banda Aceh dengan SMAN 9 sebagai juaranya. Hal ini sangat baik karena dengan adanya usaha ini semua orang di Aceh akan mengetahui Saman dengan harapan orang yang ada di kota besar lain, terutama di Jakarta mengerti mana yang dinamakan Saman dan mana yang bukan. Hal ini perlu karena Unesco saja sudah paham Saman, semantara itu orang Indonesia belum paham sehingga semua tari yang duduk (pemainnya perempuan) juga disebut Saman. Ini merupakan kekeliruan yang harus segera diluruskan.

B. Konsep Seni

Pengertian kebudayaan dapat dilihat dari pendapat beberapa ahli. Ki Hajar Dewantara mengatatakan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap pengaruh alam dan zaman. Sutan Takdir Ali Syahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir manusia. Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar sera keseluruhan hasil budi pekertinya (Widyosiswoyo, 1996: 33-34). Kesemua pendapat ahli mempunyai benang merah yang mengatakan bahwa kebudayaan itu merupakan ciptaan manusia dalam mejalani kehidupan. Seni tari yang dibahas dalam makalah ini yaitu tari saman juga merupakan hasil ciptaan manusia yang digunakan untuk tujuan tertentu. 

Seni tari pada umumnya mempunyai keindahan yang menyebabkan seseorang tidak merasa bosan untuk mendengar atau melihatnya. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut indah. Djelantik (1999:4) mengatakan, “Pada umumnya apa yang kita sebut indah di dalam jiwa kita dapat menimbulkan rasa senang, serta merasa puas, rasa aman, nyaman dan bahagia, dan bila perasaan itu sangat kuat, kita merasa terpaku, terharu, terpesona, serta menimbulkan keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali”. Kesenian tradisional di Aceh pada umumnya mempunyai keindahan yang mengagumkan. Hal ini dapat kita saksikan jika ada pertunjukan seni misalnya, seudati, saman, didong, rapai geleng, dll. selalu  banyak penonton, walaupun sudah sering melihatnya. Pertunjukan sedudati selalu banyak penantonnya, pertandingan saman juga selalu ramai pengunjung, padahal pertunjukan kesenian sudah berkali-kali dilihatnya. Jadi, dapat kita katakan bahwa tari tradisional di Aceh sudah merupakan kebanggan masyarakat Aceh.

Kesenian tradisional di Aceh semua mempunyai ciri-ciri tersendiri. Saman, seudati, meusekat, rapa’i geleng, rapai pulot, ratôh duёk, mempunyai ciri dan bahasa tersendiri walau terlihat ada unsur-unsur yang sama. Hal ini sesuai dengan konsep seni bahwa semua benda atau peristiwa kesenian mengandung tiga aspek yang mendasar, yakni wujud atau rupa (appearance), bobot atau isi (content, subtance), dan penampilan, penyajian (presentation). Wujud kesenian terdiri atas bentuk (form) atau unsur yang mendasar, dan susunan/struktur (structure). Bobot kesenian mempunyai tiga aspek yakni suasana (mood), gagasan (idea), dan ibarat/pesan (message). Penamapilan seni ada tiga unsur yang berperan yaitu bakat (talent), keterampilan (skill), dan  sarana atau media (medium atau vehicle) (Djelantik, 1999: 17-18). Dengan demikian, semua kesenian tradisional di Aceh, yang kadang-kadang terlihat hampir sama, mempunyai ciri pembeda dan juga mempunya nama yang berbeda.

Jika tari diamati dengan teliti, tampak secara jelas terdapat banyak unsur di dalamnya. Di antara unsur yang sangat signifikan adalah gerak dan ritme. Seorang penulis dan kritikus tari dari Amerika bernama John Martin berpendapat bahwa substansi baku dari tari adalah gerak (Sudarsono: 15). Dalam kesenian saman terdapat beberapa gerak dan juga ritme yang khas. Gerak yang ada dalam saman banyak di antaranya singkih, lingang, tungkuk, langak, anguk, girik, gerak selalu, gerutup, guncang, dan surang-saring. Ritme yang ada dalam saman adalah rengum, dering, sek, redet, dan saur (Kesuma, 1999: 12-37).  Setiap tari saman yang dimainkan harus sesuai dengan gerak serta ritme yang ada dalam tari saman karena memang seperti wujud dari saman. Oleh karena itu, jika ada tari yang menamakan tari sama yang tidak sesuai dengan pola yang ada, bukan merupakan tari saman.

Jakob Sumardjo mengatakan, Seni terwujud berdasarkan medium tertentu, baik dengaran (audio), maupun lihatan (visual), dan gabungan  keduanya. Tiap-tiap golongan seni tadi ditentukan bentuknya oleh material seninya atau mediumnya. Tiap medium memiliki ciri khasnya sendiri dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing (Jakob Sumardjo, 2000: 30). Tari saman juga mempunyai medium tersendiri. Warna pakaian yang dipakai penari juga mempunyai mana tersendiri, yaitu kuning sebagai lambang keagungan, hijau sebagai lambang kemakmuran, merah sebagai lambang keberanian, putih sebagai lambang kesucian. Jenis pakaian yang dipakai juga terdiri atas bulang teleng, ikotni rongok, baju kantong, upuh pawak, suel naru, ikotni pumu, dada kupang, sensim ketip, dan tajuk kepies, (Kesuma, 1999: 58).  Dari segi medium sendiri sudah dapat dilihat ciri pembeda tari saman sehingga masyarakat dengan mudah mengetahui mana yang disebut saman dan mana yang bukan.

Memang dalam seni mungkin saja ada kepentingan “tertentu” yang menyebabkan kekaburan konsep sehingga para pelaku seni membuat kreasi yang mungkin berakibat tidak baik pada seni atau masyarakattertentu. Sumardjo, (2000: 18) mengatakan bahwa, ”Dalam berbagai bidang ilmu seni, tampaknya kita baru mengerjakan beberapa sektor di dalamnya, seperti kritik seni, apresiasi seni, dan sebagian pendekatan disiplin ilmu-ilmu lain dalam seni. Akan tetapi, dalam hal ilmu pemasaran seni, plagiat, pembajakan, permuseuman, tradisi lisan seni, dan lain-lain masih belum tersusun ilmunya”. Karena banyaknya hal yang belum dikaji dalam seni, penciptaan seni mungkin saja bermasalah karena bisa merugikan kelompok tertentu. Salah satunya yang mungkin akan timbul dalam konteks tari tradisonal adalah kaburnya sejarah seni yang sudah berakar turun-temurun dalam komunitas tertentu.

Selanjutnya, Sumardjo (2000: 51) mengatakan, “Batasan seni yang bertolak dari unsur seniman akan memunculkan masalah ekspresi, kreasi, orisinilitas, intuisi, dan lain lagi. Sementara itu, yang bertolak dari benda seni akan menekankan pentingnya aspek bentuk, material, struktur, simbolik, dan sebagainya. Yang bertolak dari publik seni akan akan melibatkan apresiasi, interpretasi, evaluasi, konteks, dan sebagainya”. Masalah yang perlu mendapat perhatian kita adalah masalah orisinilitas. Apakah sebuah seni (dalam konteks ini seni tari) dapat disebut orisinil atau tidak tentu harus kita lihat dari konsep seni, yaitu wujud, bobot, dan penampilannya. Dengan demikian, nama tari yang disebutkan harus sesuai dengan wujud, bobot, dan penampilan yang telah baku. Seandainya menyimpang dari konsep dasarnya, jangan disebut sama dengan tari yang sudah ada karena akan merugikan pemilik tari dan juga yang lebih parah akan memberikan informasi yang keliru tentang budaya kita kepada dunia luar.

C. Perkembangan Saman

Saman merupakan kesenian masyarakat Gayo Lues yang sudah turun-temurun dan sudah membudaya pada masyarakat Gayo. Saman ini dikatakan membudaya di Gayo Lues karena sejak zaman dahulu masih digemari dan tumbuh subur sampai saat ini. Buktinya, setiap kampung dan malah setiap belah (bagian dari kampung) di Gayo Lues dipastikan ada Saman dan ini sudah dibuktikan oleh tim dari Unesco sewaktu meneliti Saman di Gayo Lues. 

Dari penuturan masyarakat tetang asal usul saman, dapat dipastikan bahwa kesenian ini pada awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat  untuk hiburan semata. Seperti yang disebutkan di atas tadi bahwa kesenian ini berasal dari kesenian rakyat yang mengandalkan tepuk tangan dan juga pukulan ke paha dengan bernyanyi. Kegiatan seperti ini tentu merupakan hiburan bagi anak muda yang sedang tidak bekerja dan malah sewaktu istirahat bekerja (misalnya waktu gotong royong) masyarakat Gayo menghilangkan rasa lelah dengan main saman .

Dalam perkembangan selanjutnya atau setelah dimanfaatkan oleh ulama besar tadi, kesenian samanberubah menjadi media pengembang agama Islam. Sebagai media pengembang agama Islam, sampai kini masih bisa kita rasakan dalam syair-syairnya, terutama sekali dalam langkah-langkah awalnya selalu dimulai dengan salam. Syair-syair saman masih banyak yang berkaitan dengan konsep agama.

Coba perhatikan syair berikut ini Kén ama ine kite turah hurmet kati endepet sapaat ari Tuhente (kepada bapak dan ibu kita harus hormat agar mendapat syafaat dari Tuhan kita) Syair ini mengandung makna ketaatan atau kepatuhan anak kepada orang tuanya. Orang tua harus dikasihi, dihormati, dan juga harus dijaga jika mereka sudah tua. Hal ini sesuai dengan ajaran agama Islam. Jika rasa hormat kepada orang tua sudah tidak ada, ganjaran dosa tidak terelakkan lagi. Karena pentingnya menghormati orang tua, para pemain saman sering mengingatkan hal ini dengan cara menyelipkan syair-syair yang mengandung nasihat. Nilai yang dapat dipetik dari syair ini adalah nilai agama yakni harus menghormati orang tua. Dalam syair juga disebutkan bahwa orang yang hormat kepada orang tua akan mendapat syafaat dari Allah nanti. Banyak lagi syair yang memberi bimbingan tentang agama, misalnya “kadang berdosa péh kite ku Tuhen, negon perbueten i wasni ingin ini” (mungkin berdosa juga kita kepada Tuhan, melihat tingkah laku pada malam ini), “i belang laén dih edet gere ninget asal agama (di Belangkejeren lain sekali adat tidak ingat tentang agama) “i denie gati semiang kati senang kite lang-lang ho (di dunia sering sembahyang agar senang kita nanti/di akhirat). Masih banyak lagi kata-kata dalam syair samanyang mengingatkan kita pada ajaran agama.

Selain itu, saman juga media untuk mengingatkan kita akan peraturan atau adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini juga dapat dibuktikan dari syair-syair saman. Misalnya, ike manut péh ko gere kueten kerna géh aku ku uken gere cerakiko (kalaupun kamu hanyut tidak saya angkat karena datang saya ke udik tidak kamu tegur). Syair ini mengingatkan kita agar tidak bersifat sombong terhadap orang lain. Sifat sombong akan membawa akibat pada diri sendiri. Artinya, seseorang yang sombong akan menderita karena kesombongannya sendiri. Dalam syair dikisahkan bahwa seseorang yang hanyut di sungai tidak akan diangkat oleh orang lain hanya karena orang yang hanyut ini pernah tidak menegur seseorang. Jadi, orang akan celaka hanya gara-gara yang kecil yaitu tidak mengur orang. Jika kejadian ini dalam kehidupan nyata, betapa ruginya orang yang tidak mau bergaul dengan semua orang. Nilai budaya yang dapat dipetik adalah dalam bergaul tidak boleh sombong dan pergaulan tidak harus terbatas dengan orang tertentu saja. Bergaul sebaiknya dengan semua lapisan masyarakat yang baik-baik. Selain itu, dalam syair ini terdapan pesan agar kita selalu membantu orang lain agar kita dibantu orang juga pada saat susah.

Selanjutnya, saman berfungsi sebagai hiburan atau sebagai tontonan sehingga kegiatan saman muncul pada acara tertentu seperti hari ulang tahun, peringatan maulid, hari raya idul fitri, dan juga acara-acara peresmian. Akan tetapi, fungsi saman sebagai hiburan tidak bisa dipisahkan fungsi ini satu persatu karena dalam konteks hiburan syair saman juga masih banyak yang berbau nasihat atau adat istiadat, atau juga penerapan peraturan pemerintahan. Dengan demikian, mungkin hanya wujud fisiknya saja sebagai hiburan, sedangkan ujud hakikatnya masih dapat berjalan sebagai fungsi lain. Salah satu fungsi yang paling menonjol dan dapat dituru dalam kesatuan dan persatuan bangsa adalah fungsi integrasi sosial. Fungsi ini khusus dibahas nanti pada bagian akhir.

Perkembangan selanjutnya saman sudah dijadikan sebagai kesenian yang diikutsertakan dalam festival sehingga sudah mulai dikenal oleh orang lain. Kegiatan festival yang mulai diikuti oleh tari saman adalah pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA ke-2) tahun 1972 di Banda Aceh. Pada waktu itu tari saman menjadi salah satu tari favorit sehingga digelari oleh Ibu Tien Soeharto sebagai “Tari Tangan Seribu”. Sejak itu tarisaman mulai dikenal luas sehingga diundang dalam pembukaan Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1974. Pada tahun berikutnya tari saman diundang kembali ke Jakarta dalam rangka peringatan hari ulang tahun RI ke-30. Pada tahun 1977 tari saman kembali kembali menjadi wakil Aceh dalam Festival Tari Rakyat I di Jakarta dan tahun berikutnya menjadi wakil Aceh mengikuti Fertival Jakarta. Tarisaman juga selalu ikut dalam Pekan Kebudayaan Aceh III tahun 1988 di dan Pekan Kebudayaan Aceh IV tahun 2004 di Banda Aceh. Selain itu tari saman juga pernah diundang ke Amerika, Spanyol, dan Malaysia.

Perkembangan selanjutnya sudah mulai dijadikan sebagai komeditas komersil sehingga banyak berdiri sanggar tari yang memanfaatkan jasa tari saman. Perkembangan terakhir banyak muncul nama tarisaman dan ada juga saman yang dimainkan wanita yang kurang sesuai dengan saman yang berasal dari daerah Gayo. Selain itu banyak juga artis ibu kota yang mengaku pemain saman padahal tidak bisa bersyair Gayo. Dengan demikian, saman sekarang sudah dikenal hampir di seluruh Indonesia, akan tetapi bahan tertulis tentang saman masih sangat langka.

D. Pelaksanaan Saman

Saman dilaksanakan oleh masyarakat Gayo Lues tergantung pada keadaan setempat dan juga tergantung pada jenis saman yang dilaksanakan. Misalnya saman menjik dilakukan hampir setiap ada kegiatan bejamu menjik (bergotong royong menginjak atau merontokkan gabah). Acara gotong royong menginjak padi ini pada masa lalu selalu diadakan pada watu malam sehingga waktu istirahat dihibur dengan samanSaman ngerje atau saman umah sara dilakukan jika ada waktu senggang pada upacara perkawinan. Saman biese atau saman pertunjukan dilakukan sewaktu ada acara peringatan sesuatu atau ada acara peresmian. Saman jalu umumnya dilaksanakan setelah panen selesai karena kesibukan sudah berkurang.

Pelaksananan keempat jenis saman ini berbeda satu dengan yang lain. Saman menjik dilakukan hanya dalam suasana melepaskan kelelahan saja dan tujuannya sebagai hiburan belakan. Saman ini dilakukan bisa saja sambil berjuntai di pematang sawah atau bisa saja duduk dengen melipat kaki di tumpukan jerami. Akan tetapi, jangin atau nyanyian kadang-kdang bisa mengandung makna tertentu dan biasanya berkaitan dengan maslah remaja (biasanya gotong royong menginjak padai ini diikuti gadis dan bujang).

Dalam saman menjik ini tidak ada ditunjuk seorang penangkat atau pengapit. Karena situasinya sebagai hiburan saja, siapa saja yang mau bisa ikut  dan gerakan atau lagu yang merka pilih biasanya gerakan yang sederhana. Urutan-urutan penyampaiannya juga tidak ada. Saman ini kadang-kadang langsung pada gerakan atau lagu tanpa terlebih dahulu diawali dengan rengum, dering, salam, dan sebagainya.

Saman ngerje atau saman umah sara juga tidak jauh berbeda dengan saman menjikSaman ini juga tidak ada seorang penangkat atau peran yang lain karena juga fungsinya hanya sebagai hiburan dalam waktu senggang, namun syair yang dikemukakan lebih teratur karena banyak ditonton oleh orang banyak. Uruan-urtan penampilannya juga tidak ditentukan bisa saja dimulai dengan sek atau juga dengan gerakan yang sederhana. Yang membedakan dengan saman menjik adalah duduknya selalu duduk bersila kerena dilakukan di lantai rumah sambil duduk, sedangkan saman menjik bisa berjuntai tau duduk melipat kaki. Jadi, bedanya hanya diambil dari nama kegiatan yang sedang dilakukan yaitu samanmenjik dilakukan waktu menjik (menginjak padi) dan saman mengerje dilakukan waktu perkawinan (mengerje).

Saman biese atau saman pertunjukan merupakan saman yang formal karena dilakukan pada upacara tertentu. Pelaksanaannya lebih teratur dibandingkan dengan kedua saman yang disebutkan tadi. Samanini juga berfungsi sebagai hiburan karena dipntaskan untuk menghibur orang yang menghadiri upacara, baik peresmian, resepsi atau hajatan, dan juga peringatan hari-hari tertentu.

Pelaksanaan saman biese ini sudah harus mengikuti tata cara yang formal atau lazim digunakan dalam acara saman dan umumnya seragam yang mereka gunakan juga seragam yang lazim untuk bersaman.Saman biese hanya satu baris berjejer karena tidak ada lawan dan biasanya mereka menghadap kepada penonton. Sebagai ilustrasi di bawah ini dilukiskan penampilan saman biese.

Langkah pertama para memain berdiri berbaris memanjang. Setelah simetris dengan tempat pertunjukan, pemain saman duduk serentak dan duduk ini diistilahkan dengan duk yang artinya duduk. Setelah duduk berjejer, baru kegiatan saman dimulai.

Dalam keadaan posisi duduk (melipat kaki seperti waktu salat), kegiatan yang pertama adalah rengumyaitu bergumam seperti yang telah disebutkan di atas. Setelah rengeum sebentar dimulai dengan dering(lihat dering) dan diikuti dengan gerakan meliukkan badan ke belakang lalu ke depan dan kemudian kembali lagi duduk seperti biasa. Biasanya gerakan ini dilakukan dua kali. Setelah gerakan yang kedua, para pemain biasanya seperti setengah bersujud dan waktu itu tukang sek (biasanya penangkat atau orang yang paling merdu suaranya) mengucapkan salam kepada orang-orang cerdik pandai, pemimpin, dan juga penonton.

Setelah selesai salam, pemain mulai secara pelan-pelan menepukkan tangan dengan bergantian tangan kanan di atas kemudian di bawah dan kemudian meliukkan badan belakang lalu ke atas. Kata-kata yang diungkapkan biasanya “iyé sigenyan an nyan ééé lallah, nyan é haéllah laila alla ahu”. Setelah itu kadang-kadang tukang sek meminta ampun kepada orang tua dengan ungkapan “ ampuuun ampuuun, nyané nyané lallah ku ama ineku”. Akan tetapi, ada juga kelompok saman yang langsung masuk ke anak lagu yang dikuti gerakan surang saring atau zik zak. Gerakan surang saring ini pertama sekali pelan yaitu sewaktu redet diungkapkan oleh ketua, tetapi setelah saur mulai gerakan agak cepat dan sewaktu memulai gerakn cepat itu pemain semua melepaskan bulang téléng masing-masing kemudian gerakan surang saring dilakukan dengan cepat. Setelah surang saring berhenti, saman akan masuk ke lagu atau gerakan yang sudah dipilih dan juga diikuti dengan jangin atau syair tunggal yang disebut redet dan diikuti secara bersama oleh kelompok yang disebut dengan saur.

Setelah saur atau nyainya bersama, penangkat atau tukang sek yang telah ditentukan melantunkan sekdengan memberi peritah selanjutnya dan biasanya perintah itu berisikan peringatan kepada anggota bahwa akan diadakan gerakan cepat yang disebut dengan guncang. Ungkapan dalam sek ini misalnya, “inget-inget bes pongku, cube ipererasa ko ineeee”. Artinya, hati-hati atau waspada teman, coba kamu rasa-rasakan wahai (ine = ibu, tetapi di sini tidak bisa diterjemahkan ibu karena ini hanya ungkapan penghalusan saja).

Setelah mendengar sek seperti ini ada dua model yang dilakukan. Pertama, pemain akan melakukan gerakan cepat atau guncang. Gerakan cepat ini akan berhenti setelah dua kali lagu atau gerakan dan ada juga yang tiga kali lagu. Model seperti ini yang paling lazim digunakan pada masa dahulu. Kedua, pemain akan melakukan saur atau nyanyian bersama kembali setelah itu baru diadakan gerakan yang cepat. Model kedua ini banyak dilakukan oleh pemain saman pada masa kini. Kedua model ini tidak salah karena masing-masing ingin membuat variasi penampilannya.

Setelah guncang atau gerakan cepat, saman biese atau pertunjukan biasanya diselingi dengan anakni lagu yaitu surang saring ditengah. Anakni lagu ini dimulai dengan aba-aba yang dinyanyikan berupa syair secara pelan terlebih dahulu oleh penangkat, setelah itu diikuti saur oleh anggota sambil memulai gerakan yang zik zak. Gerakan ini akan bertambah cepat sehingga pada puncaknya berhenti dengan tiba-tiba dan dilanjutkan kembali dengan gerakan atau lagu yang lain dan juga dengan syair atau janing yang lain pula.

Setelah selesai lagu yang terakhir selesai, diakhir denagn anakni lagu sebagai penutup. Penutup ini biasanya dilakukan dengan gerakan surang saring kembali. Setelah anakni lagu terakhir ini, samanpertunjukan sudah selesai. Di bawah ini akan dicantumkan contak anakni lagu yang terakhir.

  • Aihni laut gelumangé kucak Air laut gelombangnya kecil
  • Sentan muserlak iempasne atu Tatkala melimpah terhempas batu
  • Sadéa leha hala hemhala Sadéa leha hala hemhala
  • Sadéa lehé hélé hem hemhélé Sadéa lehé hélé hem hemhélé
  • Sigenyan nyané haé lalla ahu Sigenyan nyané haé lalla ahu
  • Sigenyan nyané haé lalla ahu Sigenyan nyané haé lalla ahu

Saman pertunjukan biasanya waktunya terbatas. Dalam pertunjukan untuk menyambut tamu negara kadang-kadang hanya disediakan sepuluh menit dan ada juga yang hanya lima menit. Oleh karna itu, gerakan yang dipilih tidak banyak dan juga tidak panjang. Setelah satu lagu atau gerakan biasanya diikuti dengan anakni lagu yang akan dilakukan gerakan surang saring, dan setelah itu dipilih satu lagu lagi, kemudian gerakan terakhir kembali gerakan jenis surang saring. Namun, saman pertunjukan yang tidak berkaitan dengan acara pemerintahan biasanya waktunya lebih panjang dan bisa sampai dua puluh menit atau lebih.

Pelaksanaan saman jalu tidak jauh berbeda dengan saman biese. Segala bentuk gerakan yang ada pada saman biese semua ada pada saman jalu. Akan tetapi, banyak aspek yang dalam saman jalu tidak terdapat dalam saman biese.

Saman jalu terdiri atas dua kelompok yang saling bertanding. Mereka bertanding berhadap-hadapan dengan jarak lebih kurang 4 m. Para penonton berada di sekeling pemain karena saman jalu tidak mempunyai pentas. Arena pertandingan hanya di lantai dengan memakai tikar dan kadang-kadang dibawahnya diletakkan bahan yang empuk agar lutut tidak terlalu sakit. Berbeda dengan samanpertunjukan yang mempunyai pentas, saman jalu biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka dan sering juga dilakukan di menasah (pada masa dahulu menasah biasanya di buat tinggi sehingga di kolongnya digunakan untuk pertandingan saman). Ilustrasi pertandingan saman jalu dapat dilihat pada gambar di bawah.

Urutan penyampaian pada saman jalu tidak berbeda dengan saman pertunjukan. Saman jalu juga mempunyai rengum, dering, salam, anakni lagu, dan juga lagu penutup. Namun dalam saman jalu waktu lebih lama sehingga kadang-kadang ungkapan-ungkapan banyak yang dikemukakan dalam saman jalu. Dering dalam saman pertunjukan hanya satu jenis saja misalnya, mmm  laila alla ahu, lahoya sarééé hala lemhahala lahoya hélé lem héhéle, le enyan enyan ho lean laho atau ada juga yang menggunakan mmm oi lesa, mmm oi lesa, ooooi lesa, oi lesa, lesalam a alaikum, sigenyan nyané lalllah, mmm oi lesa.Dalam saman jalu banyak lagi yang diungkapkan sebelum memulai anak lagu misalnya “he reno tewahni beras padi, so tajuk ketemi menjadi rem rempelis bunge” atau ada juga yang mengungkapkan “mang ketéh téh mang kemang bungeni kupi, tirmi éték kao kul bersempol belejer nayu”.

Gerakan surang saring pada saman jalu sama dengan saman bisa demikian juga gerakan cepat atau guncang. Namun guncang pada saman jalu berbeda cara berhentinya dengan guncang pada samanpertunjukan. Guncang atau gerakan cepat pada saman jalu akan berhenti setelah mendengar aba-aba dari penangkat dan biasanya cara menghentikan gerakan cepat ini tidak tiba-tiba, tetapi dengan membuat badan seperti per. Artinya, badan masih diayun-ayun namun tidak lagi diikuti dengan pukulan dada yang keras. Sering juga penangkat menyampaikan syair secara tunggal (redet) sehingga pengikut melakukan gerakan yang berkurang dan akhirnya narmal setelah menyanyikan bersama.

Saman jalu juga menggunakan anakni lagu dengan melakukan gerakan yang zik zak dan gerakan itu mungkin dilakukan berkali karena waktu pelaksanaannya mencapai satu jam. Dalam saman jalu ini para pemain leluasa mengemukakan pendapat, nasihat, kritikan, atau apa yang dicita-citakan.

E. Fungsi Saman

Seni saman juga memiliki fungsi dalam konteks sosial dan budaya. Saman ini hidup karena fungsi-fungsi sosial. Misalnya marhaban dan barzanji hidup karena ia difungsikan dalam aktivitas-aktivitas sosial, seperti menikah, khitan, menghantar menyambut haji dan lain-lainnya.

Saman memiliki bermacam fungsi di antaranya sebagai (a) sosiol, (b) kelestarian dan stabiliti budaya, (c) pendidikan, (d) hiburan, (e) sebagai sarana dakwah Islam, (f) sebagai sarana komunikasi, (g) sebagai pencerminan spiritualiti Islam, (i) sebagai pengaktualisasi diri, dan lain-lain. Fungsi yang akan dikemukakan dalam tulisan ini hanya fungsi yang bekaitan dengan kestuan dan perstuan masyarakat yang menjadi cikal bakan sebagai kesatuan dan persatuan bangsa, yakni fungsi sosial.

Fungsi sosial yang ingin penulis tonjolkan dalam tulisan ini adalah efek positif dari kegiatan Saman Jalu. Saman Jalu merupakan inti dari saman yang ada di Gayo Lues. Artinya, saman jalu ini yang paling utama di Gayo Lues dan kegiatan Saman Jalu ini dilakukan antara satu kampung dengan kampung lain (lihat pelaksanaan saman dalam tulisan ini). Saman jalu antarkampung dilakukan selama satu hari satu malam (sara lo sara ingi) atau dua hari dua malam (roa lo roa ingi). Namun, perkembangan terakhir ini sudah ada beberapa kampung mengadakan tiga hari tiga malam (kemungkinan ini karena kampungnya berjauhan dan juga terjadi Saman Jalu antarkabupaten).

Dalam acara Saman Jalu  selalu ada istilah “beserinen” (berasal dari kata “serinen” artinya saudara). Pemain saman tuan rumah mencari “serinen” dari pemain saman tamu. Konsekwensi dari pemilihan serinen ini akan berlanjut pada pergaulan selanjutnya atau setelah saman selesai. Selama pelaksanaan saman jalu berlangsung, semua konsumsi yang diperlukan menjadi tanggungan dari pihak serinen dari tuan rumah.Demikian juga nanti sewaktu diadakan kembali saman jalu tandang (artinya pihak tuan rumah yang telah melaksanakan saman jalu akan pergi ke kampung tamu tadi). Pada kegiatan di kampung tadi kembali apa yang menjadi kewajiban tuan rumah sbelumnya juga akan menjadi kewajiban tuan rumah yang sedang menerima tamu ini.

Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa hubungan silaturahum ini akan berlanjut sampai  pemain saman ini tua. Mereka masih saling berkunjung dan juga keluarga masing-masing juga terus menjalin hubungan dan selalu mengenang kejadian “beserinen” pada masa menjadi pemain saman waktu muda. Jika dianalisis, keakraban seperti ini, saman ini sebenarnya mempunyai fungsi sebagai pengerat silaturahim antarkampung yang ada di Gayo Lues. Artinya, fungsi sosialnya dapat dikatakan sebagai pengerat hubungan sosial atau mungkin saja dapat disebut fungsi integrasi sosial.       

F. Permasalahan

Saman merupakan kesenian yang paling populer dalam masyarakat Gayo Lues. Kesenian ini sudahturun-temurun dan berkembang di daerah Gayo sehingga tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya. Hal ini karena bukti tertulis tentang saman tidak ditemukan, namun dalam kenyataan kesenian ini ada dan masih digemari oleh masyarakat Gayo Lues sampai saat ini. Ada dugaan kesenian ini sudah ada sebelum Belanda datang ke Aceh karena dalam kamus Gayo yang dibuat penulis belanda sudah tercantum kata saman.

Kurangnya data tertulis tenang saman menyebabkan tidak dapat diketahui dengan pasti kapan dan dari mana asal kata saman itu sendiri. Padahal menurut pengakuan orang tua, sebelum Belanda datang ke daerah Gayo tari saman telah hidup dengan subur pada suku Gayo, terutama di daerah Belangkejeren. Hal ini dapat kita buktikan bahwa dalam kamus Belanda yang berjudul. Gayosche-Nederlandech Wooddenboek met Nederlandsch – Gajosch Register, Batavia: Landsrukkerij Hazeu, G.A.J. Hazeu tahun 1907 telah mencantumkan kata saman.

Kapan mulai ada tari Saman di daerah Gayo tidak diketahui secara pasti karena tidak adanya data tertulis tentang tari ini. Namun, menurut pengakuan orang tua jauh sebelum Belanda datang ke Aceh tari ini telah berkembang pesat di Gayo Lues.  Hanya sayang tulisan tentang saman masih sedikit sehingga cerita tentang saman umumnya dari mulut ke mulut. Namun, sampai saat ini masih berkembang pesat di tanah Gayo. Hal ini telah dibuktikan oleh tim dari Unesco baru-baru ini.

Tari saman sejak awal sudah merupakan tari favorit di daerah Gayo Lues dan Daerah Lukup (Aceh Timur). Tari ini merupakan kebanggan masyarakat Gayo. Sampai saat ini setiap kampung yang ada di Kabupaten Gayo Lues pasti mempunyai kelompok saman sejumlah belah (klan) yang ada di kampung itu, misalnya, Kampung Kutelintang terdiri atas enam belah dan sudah dapat dipastikan di kampung itu ada enam kelompok (pasuken) saman.

Tari saman sudah mulai populer sejak tahun 1972 yaitu sewaktu tampil pada PKA ke-2. Pada pidato perpisahan PKA ke-2, Meneteri Penerangan Boediardjo mengatakan,”Di Aceh saya temukan tidak hanya dua belah tangan saja tetapi 1000 tangan sampai  bingung itu tangan siapa yang ada di sana, ngeloyo kesana, ngeloyo kesini,”…. (Ishak, 1973:490). Sejak itu tari saman sering digelari tari Tangan Seribu. Bagi masyarakat Gayo sendiri sebenarnya kebanggan terhadap saman bukan hanya karena sudah mulai populer, melainkan sebelum tari ini dikenal luas sudah menjadi kebanggan bagi masyarakat dan sampai saat ini keberadaan masih eksis di daerah Gayo.

Dari segi penampilan, kesenian Aceh banyak yang mirip. Kesenian di Aceh banyak sekali yang mengambil posisi duduk berlutut dan berjejer, misalnya, saman, rapa’i geleng, meusekat, rapai pulot, ratôh duёk, (Ishak, 1973: 181-225). Oleh karena itu, Kanwil P dan K Aceh pada tahun 1981 telah berusaha mengidentifikasi kesenian-kesenian yang mempunyai kemiripan penampilan agar diketahui dunia luar jenis dan nama tari, yang mempunyai kemiripan, di Aceh. Hasil identifikasi P dan K Aceh ini diterbitkan dalam bentuk deskripsi setiap tari. Salah satunya dibuat dalam bentuk buku yang berjudul Diskripsi Tari Saman (yang seharusnya Deskripsi). Oleh karena itu, jika muncul nama tari saman hendaknya merujuk pada deskripsi yang telah dikeluarkan oleh Kanwil P dan K tersebut agar anak cucu kita serta masyarakat nasional dan internasional memahami inilah tari saman dengan kelebihan dan kekurangnnya.

Pada era akhir 80-an dan awal 90-an sampai kini sudah banyak sekali “tari saman” dipelajari dan dipertunjukkan baik oleh orang Aceh maupun orang lain, bahkan di Jakarta ada beberapa sekolah sudah diajarkan “tari saman”. Kita sebagai masyarakat Aceh, terutama  suku Gayo, sangat bangga akan peristiwa ini. Masyarakat Aceh bangga karena tari saman yang pada mulanya merupakan tari tidak dikenal menjadi tari yang dikagumi orang lain. Akan tetapi, banyak masyarakat merasa bingung karena pola tari dan penarinya sudah berubah dari yang dikenal oleh masyarakat sebelumnya.

Jika hal ini tidak diluruskan, dan seolah-olah kita menyetujuinya, besar kemungkinan tari tradisional saman tidak akan dikenal oleh orang lain dan hal ini akan menghilangkan jati diri saman yang semulatidak dikenal menjadi terkenal dan kembali menjadi tidak dikenal. Alangkah kejamnya manusia jika ini terjadi. Kegiatan seperti ini sama saja dengan usaha “sengaja menghilangkan” sejarah budaya Aceh dengan tujuan yang belum jelas.

 Masyarakat tidak berharap seperti yang diungkapkan Jaya Suprana dalam “kelirumologi”. Beliau mengatakan, keliru jika Columbus disebut penemu Benua Amerika karena dia tidak pernah sampai ke Amerika dan juga keliru jika disebut James Cook penemu benua Australia karena sebelum James Cook tiba di Australia, pelaut Sulawesi Selatan telah menjalin hubungan dagang dengan suku Aborijin sebelumnya. (Suprana, Sabtu 4 Juli 2009). Kita takut nanti muncul tulisan pada masa generasi penerus kita muncul genarasi Jaya Suprana berikutnya yang menulis “Kelirumologi: saman, keliru jika dikatakan saman dimainkan oleh laki-laki karena saman “sebenarnya” dimainkan wanita.  Dengan demikian pada zaman anak cucu kita nanti tercatat dalam sejarah budaya Indonesia yang menyatakan saman adalah tari yang dimainkan wanita, seperti yang tertera di internet sekarang ini (masih untung dalam KBBI tercatat saman sebagai tari yang diaminkan laki-laki) . Saya yakin masyarakat Aceh tidak akan berharap ada usaha menghilangkan sejarah budaya Aceh secara sengaja. 

Mungkin saja secara tidak sengaja kita lupa bahwa usaha seperti ini bisa menghilangkan kebudayaan. Hal ini bisa terjadi karena ada kecenderungan dalam masyarakat Aceh seperti yang pernah diungkapkan oleh ahli seni, Amir. Beliau mengatakan,

“Terdapat banyak kesukaran dalam melacak elemen-elemen kesenian Aceh. Hal ini sering mengakibatkan kurangnya kedalaman dan pemahaman nilai dalam setiap kegiatan seni masyarakat Aceh.  Pentingnya pengawetan dan perawatan peninggalan kebudayaan masa lalu masih belum dipahami oleh masyarakat Aceh pada umumnya dan para pimpinan khususnya. Berbeda dengan masyarakat Barat yang menyimpan karya budaya ratusan tahun di tempat-tempat seperti meseum dan konservatorium, terdapat kecenderungan di Aceh untuk melupakan sejarah, bahkan lebih parah lagi mengambil karya masa lalu dan mengakuinya sebagai karya masa kini” (Amir, 2006: 6). Jika hal ini terjadi, alangkah malangnya nasib kebudayaan kita, termasuk akan hilangnya sejarah tari saman dari fakta yang sebenarnya.

G. Pembahasan

Sumardjo (2000: 241) mengatakan bahawa seni merupakan produk masyarakat.  Hal ini  benar sepanjang dipahami bahwa karya seni memenuhi fungsi seni dalam masyarakat tersebut.  Jadi, dapat diyakini bahwa penciptaan tari saman mempunyai tujuan dan latar belakang dari pemikiran dan nilai yang ada pada masyarakat Gayo. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa tari saman sudah merupakan “jiwa” bagi pemuda Gayo Lues. Oleh karena itu, dalam kegiatan tari saman sudah pasti mengandung nilai budaya yang dianut oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dipahami karena kesenian yang berkembang pada setiap masyarakat merupakan refleksi dari pemikiran atau keinginan ideal yang berkembang dari masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seni itu mengandung nilai kehidupan yang ada pada suatu masyarakat.

Tari saman merupakan tari gabungan dari gerak dan nyanyi. Penari duduk bersimpuh dan sekali-kali duduk berlutut. Sewaktu tari saman dimainkan, sekaligus diringai dengan syair-syair yang dinamakan “jangin”. Syair (jangin) ini diungkapkan secara spontan yang mengandung makna yang bervariasi. Kandungan syair (jangin) itu sendiri bisa berupa nasihat, sindiran, lelucon, pandangan hidup, dll. yang berkembang dalam masyarakat sendiri. Dengan demikian, sebenarnya isi syair dalam saman dapat dikatakan merupakan gambaran pemikiran ataupun keinginan dari masyarakat Gayo tentang kehidupan ini. Artinya, makna yang ada dalam syair saman mengandung hal-hal yang terpikirkan atau diidam-idamkan oleh masyarakat Gayo.

Dalam tulisan dan kenyataan yang kita jumpai di Aceh, terutama pada Pekan Kebudayaan Aceh, tari saman semua dimainkan oleh laki-laki. Pada PKA ke-2 tari saman dimainkan oleh kontingen Aceh Timur (saman Lokop), dan Aceh Tenggara (saman Gayo), Tari saman yang ditampilkan oleh Aceh Timur (saman Lokop) dan Aceh Tenggara tidak ada perbedaan karena memang keduanya dimainkan oleh etnik Gayo. Artinya, unsur-unsur yang ada dalam kedua saman ini sama, baik gerak, maupun ritmenya.

Dari uraian ini dapat dikatakan bahwa saman di Aceh Timur dan Aceh Tenggara sama yakni dimainkan oleh laki-laki. Namun, jika ada tari yang diberi nama SAMAN, harus dimaikan oleh laki-laki karena demikian pola saman yang ada di Provinsi Aceh. Tarian wanita yang duduk berjejer seperti saman memang ada dalam budaya di Aceh. Pada PKA ke-2 ada tari yang dimainkan wanita mengambil posisi duduk,seperti saman, yaitu dari Aceh Selatan dengan nama Meusekat dan dari Aceh Barat dengan namaRateeb Meusekat. Oleh karena itu, kita heran mengapa ada tari “saman” yang dimainkan oleh wanita, yang tidak ada patronya dari saman yang ada di Aceh, baik dari Aceh Timur dan Aceh Tenggara.. Saman dari Aceh Timur dan Aceh Tenggara dimainkan oleh laki-laki, menggunakan jangin (syair) bahasa Gayo, memakai baju kantong dan bulang teleng, dan setelah gerakan cepat bulang teleng dicopot. “Saman” yang dimainkan oleh wanita sekarang ini tidak ada mengikuti pola seperti saman yang telah ada tadi. Oleh karena itu, Marilah kita tunjukkan kepada anak cucu kita dan dunia bahwa kita memang orang yang berbudaya tinggi.

Dari bahasan di atas dapat disebutkan bahwa saman mempunyai konsep tersendiri, baik saman Aceh Timur (Lokop) maupun saman Aceh Tenggara (sekarang Gayo Lues).  Oleh karena itu, pelaku seni yang mempertunjukkan tari saman harus sesuai dengan pola tari saman dari kedua kabupaten tadi. Hal ini sesuai dengan konsep seni bahwa tiap-tiap golongan seni ditentukan bentuknya oleh material seninya atau mediumnya. Tiap medium memiliki ciri khasnya sendiri dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing (Jakob Sumardjo, 2000: 30).

Mengapa terbentuk tari “saman” yang tidak sesuai dengan wujud, isi, dan penampilan saman yang sudah standar di Aceh. Kita tidak tahu jawabannya, hanya menebak-nebak saja (bisa benar atau salah dan kita berharap tebakan kita salah).  Secara tebak sederhana mungkin saja sebuah benda dianggap oleh sekelompok orang tidak bernilai pada satu ketika, namun setelah ada kelompok lain atau mungkin saja orang tertentu mengetahui bahwa benda ini berharga, benda tadi akan terangkat derajatnya sehingga mempunyai nilai yang tinggi dan banyak orang berminat terhadap benda itu. Contoh sederhana, sebidang tanah pada satu ketika tidak mempunyai nilai jual yang tinggi, tetapi setelah ada jalan tembus ke wilayah itu nilai jualnya akan berkali lipat. Hal ini sebenarnya masalah yang lumrah dalam kehidupan manusia.

Demikian juga halnya dengan kesenian, terutama tarian yang dimiliki oleh orang yang teisolir. Pemilik tari mungkin saja menganggap bahwa kesenian mereka hanya untuk “konsumsi” mereka sendiri. Akan tetapi jika ada suatu peristiwa, mungkin saja tari yang mereka miliki menjadi terkenal sehingga digemari masyarakat lain. Orang lain akan belajar tarian ini dan juga akan menampilkannya. Hal seperti ini memang lumrah dan memang sah-sah saja. Jika ini terjadi, pemilik asal tari tidak merasa keberatan dan malah merasa bangga. Namun, yang keliru adalah  kita mempelajari tari tersebut dan mengubah konsep dasarnya, yakni wujud, isi, dan penampilan, sedangkan nama tari masih diberi nama yang asli.

Penulis yakin jika tari seudatai dipelajari oleh orang lain, kita sebagai orang Aceh merasa bangga. Namun, penulis juga yakin Aceh sangat tidak setuju jika seudatai dimainkan oleh perempuan, jumlah penarinya tiga belas orang, pakaian yang dipakai blangkon, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa, namun, namanya tari masih SEUDATI. Mengapa etnik Aceh tidak setuju? Jawabannya sederhana yaitu tidak sesuai dengan wujud, isi, dan penampilan tari Seudati yang telah ada dan jika ini terjadi pasti akan mngubah sejarah budaya Aceh tentang seudati.  Demikian juga halnya tari saman. Masayarakat Gayo sangat setuju dan bangga jika ada orang belajar saman dan menampilkannya, tetapi harus sesuai dengan pola dasar yang telah ada. Jika tidak sesuai dengan pola dasar saman semua orang (keyakinan saya), tidak setuju diberi nama tari disebut saman. Jika ada yang menampilkan tari “saman” yang tidak sesuai dengan pola saman, penulis setuju, tetapi nama tari tersebut jangan diberi saman karena akan mengubah sejarah kebudayaan tentang tari saman yang telah ada.

Pada PKA ke-3 tahun 1988, ada sebuah kebijakan panita pusat agar semua kabupaten di Aceh menampilkan tari seudati. Dalam kondisi ini, Kabupaten Aceh Tenggara, yang umumnya didiami etnik Alas, Gayo, Karo, Mandailing, dan Batak juga berusaha menampilkan tari seudati dengan memilih etnik Aceh yang tinggal dan bekerja di Aceh Tenggara untuk menjadi pemain seudati. Kala itu seudati dari Aceh Tenggara menampilkan seudatai dengan pola seudati yang sama dengan kabupaten lain yang didiami etnik Aceh, namun kualitasnya tidak sama. Dalam konteks ini, alangkah bermartabtnya etnik yang empunya seudati karena penampilan seudati tidak berubah dari konsep dasarnya. Dengan demikian, kita hendaknya sepakat, penampilan tari saman hendaknya juga kita lakukan seperti itu agar kita turut menghormati martabat etnik yang empunya saman tersebut.  

Dalam penampilan seni, penulis sangat setuju dengan  Festival Gamelan yang dilaksanakan di Yogyakarta tahun 1995, 1996, dan 1997. Pada festival itu ditampilkan gamelan dari seluruh dunia. Semua gamelan dari seluruh dunia mempunyai wujud, isi, dan penampilan yang sama dengan gamelan yang ada di Pulau Jawa, sebagai asal gamelan. Dalam konteks ini betapa bermartabatnya etnik yang mempunyai gamelan tersebut. Padahal kita juga tahu bahwa gamelan adalah sebuah musik tradisonal Jawa, namun digemari dan dipelajari oleh orang asing yang bukan orang Jawa.

Saat ini gamelan telah merambah di 33 negara/wilayah: Argentina, Australia, Austria, Belgium, Canada, China, Columbia, Cezch, Finland, France, Germany, Ireland, Israel, Italy, Japan, Korea, Malaysia, Mexico, Netherlands, New Zealand, Palestine, Philippines, Poland, Russia, Singapore, Spain, Suriname, Swiss, Taiwan, Thailand, UK/Inggris, USA dan Indonesia. Visi Menggagas kehidupan seni gamelan yang dinamis, selalu menyelaraskan diri dengan zaman tanpa harus kehilangan latar belakang budayanya dan saling menghargai keanekaragaman kebudayaan di dunia (http://www.jogjakita.net/forum/viewtopic.php?f=54&t=1702).

H. Penutup

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa di Aceh memang banyak seni tari yang yang penampilannya hampir sama. Namun, secara jelas sudah ada deskripsi tentang semua tari itu yang dibuat oleh Pemerintah Aceh. Deskripsi ini agar budaya yang ada di Aceh dapat diketahui oleh masyarakat luas termasuk dunia luar dan juga anak cucu kita tidak kehilangan budaya tradisonal yang kita miliki.

Setiap tari tradisional yang ada mempunyai wujud, isi, dan penampilan masing-masing sehingga peminat seni dapat dengan mudah mempelajari dan juga menampilkannya, asal sesuai dengan konsep asal tari tradisonal tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat menjaga martabat kita sebagai masyarakat yang telah dikenal berbudaya tinggi sejak Kerajaan Aceh berdiri.

Jika ada penciptaan tari yang baru, hendaknya hati-hati membuat nama karena dengan pembuatan nama yang sama dengan tari yang sudah ada (walaupun dari segi keindahan lebih menarik) dapat menyebabkan kekaburan budaya sehingga kita seolah-olah secara “sengaja” menghilangkan atau melupakan budaya yang telah ada dan kita yakin masyarakat yang berbudaya tidak pernah secara sengaja mengaburkan budaya. Selain itu, diharapkan kepada pemerintah juga harus peduli dan sensitif terhadap pelestarian budaya karena kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan bagi etnik tertentu dalam bidang budaya  bisa saja sebagai penyebab ketidakharmonisan dalam masyarakat.

 

Disampaikan pada acara Saman Summit

14 – 15 Desember 2012

Di Jakarta

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA, PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SYIAH KUALA, BANDA ACEH

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alwi, Hasan, Dendy Sugono. (ed). 2003. Politik Bahasa: Risalah Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa
  2. Amir, Iwan Dzulvan. 2006. Seni dalam Perspektif Keacehan. Satker BRR Revitalisasi dan Pengembangan Kebudayaan NAD
  3. Bahry, Rajab, dkk. 2005. Tari Saman; Sejarah Pelaksanaan, dan Nilai dalam Syairnya. Depdiknas, Balai Bahasa Banda Aceh
  4. Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
  5. http://www.jogjakita.net/forum/viewtopic.php?f=54&t=1702
  6. Ishak, Samsuddin. dkk. 1973. PKA-II Pencerminan Aceh yang Kaya Budaya. Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh
  7. Kesuma, Asli, dkk. 1991. Diskripsi Tari Saman Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Kanwil Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
  8. Mahsun. 2003. Bahasa Daerah Sebagai Sarana Peningkatan Pemahaman Kodisi Kebinekaan dalam Ketunggalikaan Masyarakat Indonesia: Ke Arah Pemikiran dalam Mereposisi Fungsi Bahasa Daerah (dalam Politik Bahasa). Jakarta: Pusat Bahasa
  9. Sudarsono. tanpa tahun. Tarian-Tarian di Indonesia 1, Jakarta: Proyek Pengembangn Media Kebudayaan Direktoran Jenderal Kebudayaan Depdikbud
  10. Sumardjo, Jakob. 2000. Filasafat Seni. Bandung: Penerbit ITB
  11. Suprana, Jaya. 2009. Kelirumologi: Bugis. Seputar Indonesia, Sabtu 4 Juli
  12. Widyosiswoyo, Sartono. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.