Bedhaya Gajah Ngamuk Tarian Berkabung Mangkunegaran yang Lahir Kembali

Mungkin tepat yang dikatakan Rendra, bahwa tradisi “adalah kemungkinan-kemungkinan.” Tradisi adalah sesuatu yang hidup. Empu adalah sebutan untuk seorang “maestro” dalam tradisi Jawa, yang melahirkan corak atau gaya yang khas. Semuanya sama-sama tradisi tapi semua memiliki kebaruan. Maka dari itu, suatu tradisi yang telah lenyap pun memungkinkan bisa muncul lagi. Yang tak tercatat bisa teringat lagi: bukan hanya melalui ingatan biasa, melainkan juga oleh yang “luar biasa.” Suatu ingatan mungkin datang melalui mimpi, serupa cerita tari Mandra Asmara, tapi mungkin juga dengan menitis (merasuk) pada tubuh, di dalam ataupun di luar kesadaran.
Memasuki ruang “kotak-hitam” (black box) gedung pertunjukan Salihara, dengan alunan gamelan Jawa, sekilas terasa aneh. Kehitaman “kotak” dengan tekstur dinding yang penuh tonjolan kecil peredam suara, mengisyaratkan modernitas kekinian, yang berbeda dengan imaji Jawa yang penuh ornamen ngrawit, lembut warna-warni. Setiap instrumen gamelan yang terdengar jelas, tidak tercampuri suara lain seperti tawa dan teriak, penjaja dagangan, suara kendaraan, bunyi elektronis penjual eskrim ngek....ngik..ngok...ngek....ngik..ngok....
Akustik ruangan di situ, yang memang luar biasa, memperjelas artikulasi setiap instrumen, tapi juga mengurangi gaung perpaduan. Bunyinya tajam di satu sisi, tapi mungkin kering di sisi lain. Suara ke-“klasik”-an Jawa serasa kurang bergema, berbeda dengan bunyi gamelan di pendopo. Mungkin karena ukurannya yang tidak sebesar milik kraton, dan dengan penempatannya yang terbagi dua, di samping kiri-kanan. Itu bukan berarti buruk, ataupun baik, melainkan “berbeda.”
Ada dua repertoar tari kraton Mangkunegaran yang dipertunjukkan, dalam rangkaian 40 hari Festival Salihara, 17 Oktober – 6 Desember 2008: beksan (tari) Mandra Asmara dan Bedhaya Dirada Meta. Keduanya adalah tarian langka. Yang kedua, konon 100 tahunan tak pernah tampil. Artinya, tak ada orang kini yang pernah menyaksikannya. Bagi penonton Jakarta, tarian malam itu merupakan pemunculan dari suatu yang telah lama tiada. Karenanya, yang lama dirasa baru, bahkan segar. Kesenian tradisi bisa “seperti roh yang hidup kembali ... seakan-akan kekuatan itu datang buat pertama kalinya,” kata Goenawan Mohamad, Sang Penata Artisik, dalam pengantarnya di booklet.
Beksan Mandra Asmara ditarikan oleh dua perempuan (berpenampilan cantik) dan dua laki-laki (berpenampilan buruk). Tarian yang diciptakan tahun 1920-an ini menggambarkan dua pendeta, yang satu kera dan yang satu lagi raksasa, yang masing-masing sedang mengantar putrinya mencari ksatria idaman yang “bertemu” dalam mimpi. Kedua putri, dari negara yang berbeda, memimpikan ksatria yang mereka anggap sama. Ketika bertemu dan saling ceritakan maksudnya, mereka berebut, sampai berkelahi: anak dengan anak, ayah dengan ayah, yang sesekali pun bersilang. Kedua pasangan ayah-anak itu sama kuat, atau mungkin sama lemah, hingga akhirnya mereka sadar bahwa yang diperebutkan itu barulah mimpi tiada wujud. Maka damailah.
Selintas, cerita itu seperti nonsense tak berisi: melakonkan yang tak berujung, tak berbuah. Namun, seperti dalam banyak kesenian tradisi, yang dipentingkan tak mesti awal dan akhir, sebab dan akibat, melainkan proses. Dan, proses pada malam itu, mereka menari.
Tarian itulah yang “bercerita” pada penonton, dan juga pada penarinya sendiri, sehingga yang sampai bukanlah yang nonsense, bukan yang kosong, melainkan yang berisi. Tari dengan tembang bukan bertutur linear, melainkan “bergerak” dan “berbunyi.” Beberapa kata yang diucapkan (pocapan) pun disampaikan sebagai musik, bukan sebagai omongan. Penonton tak diajak memperhatikan yang dikatakan, tapi cukup dengan mendengar. Ketika Sang Putri nembang, di sela alunan suaranya ia memukul raksasa atau kera (pendeta) itu tanpa perhatian. Menyerang tanpa konsentrasi. Itu tak logis. Tapi malah terasa keras, mengejutkan. Ekspresi pemain bukan pada yang dipukul (alur dramatik) tapi pada tembang yang melagu. Gerak memukul bukan diungkapkan, melainkan terungkap. Kesenian, memang, sering tidak mengikuti prinsip logis dalam realitas sehari-hari, tapi dengan itu ia menyiratkan sesuatu melampaui realitas.
Tarian yang kedua, adalah Bedhaya Dirada Meta, dimainkan oleh tujuh penari laki-laki dengan pakaian sederhana, seragam: blangkon (topi Jawa), dodot (kain) putih dengan selendang hitam, yang jauh lebih sederhana ketimbang batik. Penonton, lagi-lagi, disuguhi imaji Jawa “yang lain.”
Kesan aneh itu bukan hanya bagi orang awam, dan bukan hanya mengenai kostumnya. Nungki Kusumastuti, seorang penari Jawa, mengatakan bahwa “tarian itu tidak biasa ... gagah bukan halus juga bukan,” katanya. “Tarian itu memang masuk dalam kategori madya taya, gaya antara,” kata Daryono, penggarapnya.
Bedhaya Dirada Meta mengungkapkan suasana berkabung dari gugurnya 15 prajurit Mangkunegaran yang membabi buta bak gajah (dirada) mengamuk (meta) hingga mampu membunuh 85 tentara kumpeni—pada waktu melawan VOC di bawah pimpinan Pangeran Samber Nyawa (Raden Mas Said, Mangkunegara I). “Karena itu, kami tampilkan dengan pakaian yang lebih sederhana; tak ada yang gemerlapan.” Kata Goenawan Mohamad, yang juga pendiri Salihara. Penampilan kostum yang berbeda dari tari Mangkunegaran pada umumnya, ternyata didukung kalangan kraton, pemilik tradisi itu. “Kami direstui. Mungkin karena tidak juga ada orang yang tahu seperti apa pakaiannya jaman dahulu.” Tambah Goenawan. “Tidak,” bantah Daryono. “Kami para penari dan para pengagung Mangkunegaran pun senang sekali dengan kostum itu, sehingga terasa tradisional sekaligus kontemporer,” tegasnya.
Bedhaya Dirada Meta memang unik. Pertama adalah tari jenis bedayan yang laki-laki, sedangkan biasanya perempuan. “Di Yogya terdapat bedhaya kakung (bedaya laki-laki), tapi itu tarian perempuan yang ditarikan laki-laki.” Kata Wahyu Santoso Prabowo, penari senior Solo yang menggarap musik Dirada Meta. Kedua, tari gaya Mangkunegaran itu di antara Solo dan Yogya: entah gaya Solo yang meng-Yogya, atau Yogya yang meng-Solo. “Untuk menarikan gaya Mangkunegaran, bagi penari Kasunanan, [keraton besar di Surakarta], sangatlah sulit. Selain greget [(rasa, energi)] yang berbeda, juga adalah posisi tubuh yang cenderung miring, menentang keseimbangan. Di situlah mungkin rasa Yogyanya.” Papar Daryono.
Tarian yang sudah lama hilang itu tidak memiliki catatan-catatan memadai untuk pegangan rekonstruksi. Yang ada hanyalah teks tembangnya. Upaya untuk menyusun ulang tarian ini, menurut Daryono, awalnya didukung oleh peluang dari Jurusan Tari ISI Surakarta, di mana ia mengajar, untuk menggali tarian langka dengan bantuan Direktorat Perguruan Tinggi di Jakarta, melalui Program Hibah Kompetensi A-1. Ternyata hasilnya disambut baik oleh G.P.H. Herwasto Kusumo, Pangeran Mangkunegaran, yang menata kostum dan mempromosikannya main di Museum Nasional Jakarta. Di situlah Mas Goenawan Mohamad melihat kami, dan menawarkan untuk pertunjukan di Salihara dengan tampilan pakaian yang baru seperti tadi,” ujar Daryono seusai pertunjukan.
Dari sisi lainnya, tarian yang “di antara” halus dan gagah ini hampir-hampir tidak memiliki junjungan (mengangkat kaki) seperti dalam kebanyakan tari Jawa laki-laki. Tarikan kaki yang menghentak, dan turun-naiknya tubuh ketika berjalan (srisig), umumnya tak terdapat dalam gaya tari Solo ataupun Yogyakarta. Maka yang “di antara” tersebut, bukanlah semata “adonan” dari dua gaya, melainkan sesuatu yang lahir baru. Bukan campuran, melainkan “asli” atau otentik; dengan nafas tersendiri, daya yang mandiri. Selain Mangkunegaran di Surakarta, gaya tari yang “di antara” Solo (kraton Kasunanan) dan Yogyakarta Hadiningrat ini, juga Pakualaman di Yogyakarta. Keduanya sama-sama “di antara” tapi keduanya juga berbeda. Keduanya adalah “pribadi.”
Mungkin tepat yang dikatakan Rendra, bahwa tradisi “adalah kemungkinan-kemungkinan.” Tradisi adalah sesuatu yang hidup. Empu adalah sebutan untuk seorang “maestro” dalam tradisi Jawa, yang melahirkan corak atau gaya yang khas. Semuanya sama-sama tradisi tapi semua memiliki kebaruan. Maka dari itu, suatu tradisi yang telah lenyap pun memungkinkan bisa muncul lagi. Yang tak tercatat bisa teringat lagi: bukan hanya melalui ingatan biasa, melainkan juga oleh yang “luar biasa.” Suatu ingatan mungkin datang melalui mimpi, serupa cerita tari Mandra Asmara, tapi mungkin juga dengan menitis (merasuk) pada tubuh, di dalam ataupun di luar kesadaran. “Ukuran salah-benar itu kami tentukan dengan rasa. Selama proses pembentukan, kami terus menerus latihan mencari kecocokan rasa, sebagai ukuran ‘kebenaran,’ baik dari yang menggarap, menarikan, maupun yang mengamati.” Jelas Daryono.
Maka dari itu, juga diakui Daryono, keterlibatan penari sepuh R.T. Suwardi (85) dan Gusti Heru (Pangenan Mangkunegaran), walaupun tidak turut melakukan, besar sekali perannya.”Pegangan kami adalah jujur dan ikhlas, untuk mendengarkan kalbu terdalam ... latihan terus menerus ... diskusi ... ziarah ke makam Pangeran Samber Nyawa ... mengadakan selamatan ... itu semua untuk mencapai yang mapan [(tepat)], yang terasa pas secara fisik maupun nonfisik.” Tambahnya.
Bedhaya Dirada Meta hidup lagi di jaman ini bukan “ditemukan kembali,” melainkan lebih tepat “dilahirkan ulang.” Kelahiran yang memberi kepuasan prima pada banyak orang, seperti yang dirasakan para penonton, pemain, dan penyelenggara pertunjukan malam itu.

Endo Suanda
Etnomusikolog, Direktur Lembaga Pendidikan Seni Nusantara, tinggal di Bandung

Dimuat di Majalah TEMPO 38/XXXVII 10 November 2008

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.