Melacak Jejak Ajeng Cileungsi Bogor*

Oleh Takhsinul Khuluq
Kekayaan budaya Sunda berupa kesenian Ajeng Cileungsi, Bogor telah lenyap sejak kurang lebih tiga dasawarsa lalu. Di tempat kesenian itu berasal, tepatnya di Kampung Empu, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, hanya tersisa satu pemainnya yang masih hidup, yaitu Zahari atau lebih dikenal dengan panggilan Abah Iroh. Lelaki sepuh berusia 67 tahun ini adalah mantan pemain Ajeng yang kebagian memainkan saron dan memerankan karakter kedok Cepot. Ia adalah anggota termuda dalam kelompok ini. 
Kesenian Ajeng adalah kesenian Sunda berupa pertunjukan gamelan berlaras slendro yang terdiri atas gong besar, kempul, bende, bonang, saron, gambang, kademung, tarompet, gendang, dan kecrek. Yang membuat gamelan ini spesial adalah adanya permainan tarompet sebagai melodi yang dominan.  Instrumen ini dimainkan setelah alunan bonang berbunyi sebagai penanda dan pengatur lagu. 
Dalam pertunjukannya,  Ajeng Cileungsi  memainkan lagu-lagu yang kebanyakan instrumental. Salah satu lagu yang populer adalah Cara Bali. Sesuai dengan namanya, lagu ini bergaya Bali, karena konon dahulu kala diciptakan orang-orang Bali, anggota laskar Sultan Agung, yang ikut menyerang VOC di Batavia pada Abad ke-17. Mereka menikah dengan penduduk lokal dan menetap di sekitar Batavia, termasuk Bogor, dan menyebarkan budayanya yang kemudian berakulturasi dengan budaya setempat.  Lagu-lagu lainnya antara lain: Ula Elok, Rancang Balikan, Balo-balo, Tiyang Layar, dan Kembang Kacang. 
Dalam pertunjukan Ajeng Cilengsi, tak hanya ditampilkan alunan gamelan yang indah, namun ada pula pertunjukan bodoran (lawak) yang menampilkan para pemain yang memakai kedok (topeng) dengan karakter seperti Cepot, Semar, Ujang Boim, dan Endel. Para pemain berkedok ini berinteraksi dan berdialog satu sama lain dengan jenaka. Mereka juga berinteraksi dengan para nayaga (pemusik)  dan penonton. Pertunjukan Ajeng juga kadang-kadang menampilkan sinden (vokalis) yang melantunkan lagu. 
Ajeng Cileungsi  yang dirintis dan didirikan oleh Kaiseran, buyut Abah Iroh, telah hidup dan bertahan selama empat generasi. Kehadirannya mula-mula adalah sebagai media dakwah penyebaran Islam di Cileungsi dan sekitarnya. Selanjutnya, ia melebur  bersama denyut nadi kehidupan sosial budaya masyarakatnya, melalui  tanggapan di berbagai hajatan seperti: kelahiran, sunatan,  dan pernikahan.  Ajeng Cileungsi juga dimainkan ketika ada upacara bersih desa semacam seren taun. Masa keemasannya adalah tahun 1960-an, tatkala banyak tanggapan yang diterima oleh kelompok ini.
Pada medium 1980-an, kesenian ini mulai meredup seiring dengan semakin jarangnya permintaan main (tanggapan). Pertunjukan jaipongan dan dangdutan lebih mendapat tempat. Ajeng Cileungsi  terakhir  kali menggelar pertunjukan sekitar tahun 1985. Para pemainnya yang berjumlah tiga belas, beranjak tua dan satu-persatu pun wafat. Generasi Abah Iroh dkk adalah generasi terakhir Ajeng Cileungsi. Tak ada penerus yang mau menekuni kesenian ini setelahnya. Proses regenerasi mandeg. Kesenian tradisional sebagai penanda identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Bogor ini pun ikut mati bersama meninggalnya  para pemainnya. 
Kini, hanya ingatan Abah Iroh dan para orang tua di daerah sana yang dapat menghadirkan kembali serpih-serpih cerita dan kenangan tentang kesenian ini.  Artefak Ajeng berupa empat kedok dan sebagian gamelan yang masih disimpan dan dirawat  Abah Iroh pun hanya menjadi saksi bisu. Satu-satunya media yang dapat menghadirkan Ajeng Cileungsi secara cukup lengkap adalah rekaman audio yang dimiliki Endo Suanda, seorang etnomusikolog. Ia merekam pertunjukan ini ketika ditanggap di rumah salah seorang warga Kampung Empu, Cileungsi, pada tahun 1984. Ia juga merekamnya saat kelompok ini menggelar pertunjukan  di Bandung pada awal 1980-an. Total rekaman audio yang dimilikinya sekitar 6-7 jam. Endo menyimpan, mengarsipkan, dan mendigitalisasi hasil rekamannya. Melalui rekaman ini, kita dapat mendengarkan alunan Ajeng Cileungsi yang menawan, sekaligus menyalakan asa dan ikhtiar untuk merekonstruksi dan menghidupkannya kembali. 
Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat sebagai lembaga yang memiliki program merevitalisasi kesenian tradisi yang hampir atau telah punah, telah berkomitmen menghidupkan kembali Ajeng Cileungsi pada tahun 2016 ini. Tekad ini akan terwujud apabila ada kerjasama antarberbagai pihak terutama para birokrat, peneliti, akademisi, senimannya, dan elemen masyarakat tempat Ajeng ini berasal.  Mengutip ungkapan ironi dari Endo Suanda: “Kalau ada hewan langka akan punah, semua pihak akan prihatin dan memberi perhatian untuk melestarikannya. Namun tatkala ada kesenian tradisi (sebagai hasil daya-cipta manusia) hampir punah, sangat sedikit yang peduli dan memerhatikan”. Nah, Ajeng Cileungsi (dan berbagai kesenian tradisi lainnya yang kondisinya sama) mudah-mudahan tidak mendapat perlakuan yang demikian.  

*Tulisan ini disarikan dari hasil wawancara penulis dengan Abah Iroh pada 30 Januari 2016 di Cileungsi, Bogor. 

Image: 

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.