Religi dan Kesenian

Oleh Endo Suanda

Disampaikan di Jakarta, 6 Juni 2015 sebagai makalah dalam Diskusi Pengantar Pameran Religi & Kesenian: Teruntuk Sang Maha Indah

A. Kesenian, Religi, dan Kebudayaan

Dalam hubungannya dengan religi, kesenian banyak diakui sebagai suatu elemen penambah indahnya suatu ekspresi religius. Dengan disertai lagu dan irama, misalnya, suatu teks religius akan dirasakan oleh umatnya menjadi lebih merasuk, lebih enak, baik dalam menyampaikan maupun mendengarkannya. Suatu teks akan pula lebih bisa dirasakan, diingat atau dihafalkan walaupun tidak dimengerti artinya. Kesenian yang berfungsi seperti itu bukan saja pada bidang musik, tapi juga seni rupa, kesusastraan, aksara, tari atau gerak dan gesture tubuh. (Yang memfungsikan kesenian serupa itu bukan hanya bidang agama, melainkan juga bidang-bidang lain seperti misalnya bidang pendidikan: dengan menyanyikan abjad ABCD, anak-anak bisa menghafalkannya dengan suka-ria dan lebih cepat).

Tempat-tempat ibadah, tidak hanya berupa sebuah ruang yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan fungsional, melainkan dibuat dengan bentuk dan ornamen yang tersendiri. Mimbar tempat khotbah, dinding, kaca jendela, tongkat, tombak, pedupaan (tempat bakar kemenyan), sesaji, lilin, bel, gendang, dan lain-lain, dibuat sedemikian rupa dengan ornamen dan pewarnaan bernilai seni.

Selain itu, di dalam lingkungan keagamaan banyak terdapat benda-benda yang lebih berupa kesenian, yang tidak digunakan sebagai properti praktis, seperti lukisan, patung, dan logo. Teks atau ayat-ayat suci umumnya tersusun dalam bentuk sastra indah, hingga menumbuhkan pancaran imajinatif di atas makna verbalnya. Banyak sekali umat yang tidak memahami bahasa aslinya, seperti Arab, Latin, dan Sansekerta, tapi paham dan ingat mengucapkannya, tanpa merasa kehilangan makna kesuciannya.

Kesenian, dalam kasus-kasus itu, adalah properti instrumental, perkakas (tools) untuk memperindah atau memperkuat daya ungkap bidang keagamaan—maka ia bisa dipesan kepada seniman, sesuai dengan tujuannya, seperti halnya untuk propaganda dan iklan.

Tetapi, ada juga kesenian yang merupakan media keagamaan itu sendiri. Tari Sanghyang dalam agama Hindu Bali, umpamanya, bukanlah gerak-gerak ibadah yang diperindah, melainkan dengan tarian itulah ibadah dilakukan. Tarian dan nyanyian para belian (dukun) yang terdapat pada praktik kepercayaan seperti di Mentawai, Dayak, dan lain-lain, atau menari (manortor) dalam praktik keagamaan Parmalim di Batak, adalah media ibadah pada kepercayaan tersebut, dengan mana persentuhan dengan “Yang Gaib” bisa tercapai.

Pada kasus yang terakhir ini pun kesenian bisa dipandang sebagai yang instrumental, yakni digunakan untuk tercapainya suatu tujuan keagamaan, bukan untuk Seni (dalam huruf besar) itu sendiri. Yang berbeda dengan yang pertama adalah tingkatan fungsionalnya, atau kadar kelekatannya antara kesenian dengan keagamaan. Dalam kasus yang pertama, kesenian merupakan bidang yang menumpang atau ditumpangkan  untuk memperindah. Jika unsur seninya itu dilepas atau tidak dipakai pun, fungsi keagamaannya tetap berjalan.  Sedangkan dalam kasus yang kedua, kesenian dan keagamaannya melekat, tidak bisa dilepaskan. Jika yang pertama bisa dipesan (pada seniman), yang kedua tidak bisa dipesan. “Kesenimanan” pun tidak lagi bisa dipandang sebagai suatu profesi khusus, senimannya bukan spesialis yang bisa menciptakan karya seni, tapi ia adalah spesialis yang bisa melaksanakan laku keagamaan. Dari kasus ini, tidaklah relevan untuk membedakan bidang kesenian dari bidang keagamaan.

Ketidak-relevan-an pemisahan kesenian itu bukan saja dengan bidang agama, melainkan juga dengan adat. Manortor (menari), juga dalam budaya Batak, bukanlah suatu profesi, Penari bukan seseorang yang dituntut memiliki kemampuan kusus yang berbeda dengan anggota masyarakat lainnya dalam menciptakan karya tari. Semua orang Batak adalah “penari.” Mereka harus menari dalam setiap upacara adat atau ritus keluarga, yang setiap saat terjadi. Yang lebih utama dalam manortor, penari harus menyesuaikan dengan posisi dirinya dalam sistem kemargaan (dalihan na tolu) pada suatu upacara, ketimbang untuk mengekspresikan gagasan kesenimanannya melalui desain-desain gerak. Dalam kesenian komunal di pelbagai wilayah Nusantara, seperti misalnya tari-nyanyi komunal sole di Adonara, Flores Timur, yang melibatkan puluhan atau ratusan orang, kemampuan mewujudkan seni-yang-indah bukanlah tujuan dan ukuran profesionalisme, melainkan lebih pada kesenangan dan keguyuban demi terjalinnya integrasi sosial melalui berkesenian. Pembajak sawah, penanam padi, atau pengambil lebah madu yang melakukan pekerjaannya sambil menyanyi, adalah misal-misal lain yang serupa.

Tentu banyak lagi kasus-kasus kesenian yang berfungsi seperti itu. Persepsi ini penting bagi kita untuk bisa memahami khazanah budaya Indonesia yang amat kaya dan beragam, di mana kesenian dan pelakunya bukanlah merupakan sektor spesial, yang terpisah dari bidang-bidang kehidupan lainnya dalam suatu sistem kebudayaan.

Untuk kembali pada isu pokok, hubungan seni dan religi, di bawah ini saya ingin melihatnya dari pandangan yang berbeda, yakni dari aspek kesenian atau sisi senimannya di mana agama memberi daya dalam pengembangan imaji dan kreativitas pada karyanya. Spiritual-keagamaan akan dilihat sebagai enerji yang lahir dari subjek, yakni seniman. Untuk menuju ke arah itu, terlebih dahulu saya akan membicarakan aspek-aspek ketaktahuan dan kegaiban dalam kesenian.

B. Ketahuan dan Ketaktahuan

Dalam berkesenian, seseorang mulai dengan belajar, sendiri ataupun bersama guru. Ia pelajari tekniknya, berlatih berulang-ulang, hingga bertahun-tahun. Antara belajar, berlatih, dan berbuat (menulis, melukis, pertunjukan, dll), sering tidak bisa dibedakan. Pada waktu dia berlatih, dia juga main; dan sebaliknya waktu main ia juga berlatih, di mana pengalaman atau teknik baru bisa diperolehnya. (Sebenarnya hal seperti itu terjadi dalam segala bidang kehidupan: cara makan, mengiris bawang, mencangkul, naik sepeda, membaca-menulis, sembahyang, dan lain-lain).

Ketika seniman berkarya, banyak dari mereka yang tidak memiliki gagasan yang persis atau lengkap sebelum karyanya terwujud. Gagasan-gagasan baru banyak berdatangan pada waktu ia mengerjakannya. Seorang dalang wayang, misalnya, tidak menyiapkan skenario atau naskah sebelum main. Terwujudnya pertunjukan, terlahir sepanjang ia melakukannya. Inspirasi, ilham, rangsangan, atau tantangan yang lahir setiap saat, secara spontan dan cekatan ia “jawab” dengan laku. Di situ, kadar kreativitas seorang seniman bukan bertumpu pada perancangan, melainkan pada kemampuan dan kepekaannya terhadap ruang dan waktu selama prosesnya berjalan.

Seorang pemain sandiwara seperti lenong, bangsawan, mamanda, ketoprak misalnya, oleh sutradara hanya diberi tahu jalan cerita keseluruhan dan tokoh apa yang harus diperankannya, beberapa saat sebelum main. Jalannya adegan, dialog yang terjadi, dan panjang-pendeknya, tergantung pada pemerannya masing-masing, respon penonton, dan situasi lingkungannya.

Maka, produk akhir dari karyanya itu pun bisa “mencengangkan” dirinya sendiri, mengecewakan ataupun membahagiakan, yang tidak tertebak sebelumnya. Suatu karya pertunjukan dalam sandiwara, bukan merupakan buah karya satu orang melainkan buah karya banyak orang: para pemain dan para penonton.

Dalam kasus yang lebih individual, seperti dalam menulis sastra dan melukis, pun demikian. Banyak sastrawan dan pelukis yang mengatakan bahwa “pena menuntun tulisannya,” atau “kuas dan cat mendorong menggoreskannya.”

Yang mendasar ingin disampaikan di sini adalah, pertama, inspirasi atau ilham tidak sepenuhnya lahir sebelum berbuat: ia, mereka, berdatangan selama laku berjalan. Kedua, inspirasi membutuhkan keahlian dan pengalaman untuk terealisasikannya suatu karya. Keduanya itu menentukan kadar atau kualitas produk.

Hal di atas, menurut saya, memiliki persamaan dengan praktik religius. Dalam bersembahyang, zikir atau meditasi, seseorang mungkin akan mulai dengan cara yang ia tahu atau cara yang biasa dilakukannya, seperti mengatur sikap tubuh dan membacara mantra. Tapi kadar kesyahduan, persentuhannya dengan cahaya-cayaha illahiah (kudus, kegaiban), akan tergantung pada perjalanan laku spiritualnya itu—yang merupakan suatu anugrah yang tidak bisa dirancang. Tingkat kesyahduan dan kebahagiaannya akan berbeda-beda, walau yang dilakukannya secara fisik sama.

Namun demikian, kadar kekuatan spiritual, atau getaran enerji yang didapatnya itu ditentukan pula oleh pengalaman atau “jam terbang”nya seseorang—serupa dengan berbedanya kadar perolehan antara tingkat pendeta atau kyai, guru, pamong, dan tingkat murid. Mungkin.

Jika getaran enerji yang didapat dari laku spiritual kita analogikan dengan getaran estetis, jampa-mantra bisa kita analogikan dengan pakem-pakem atau jurus-jurus dalam kesenian termasuk pencak-silat. Mantra, pakem, dan jurus adalah wilayah yang diketahui, dipelajari atau dihafalkan. Sedangkan getaran spiritual dan estetis adalah kualitas produk yang sebagian dihasilkan oleh teknik selama menjalani laku, dan sebagian lagi hadir dari wilayah yang tidak diketahui.

Dalam berkesenian, wilayah yang tidak diketahui itu mungkin berasal dari wilayah tahu. Karena dilatih dan dilakukan bertahun-tahun, praktik menjadi terbiasa, sehingga seolah terlepas dari kesadaran pikir. Seorang penari profesional, tidak lagi memikirkan cara menggerakkan tubuhnya. Teknik menari sudah melampaui wilayah sadar dalam mengontrol atau mengendalikan tubuh, sehingga ia bisa menukik ke dalam wilayah rasa dan kalbu untuk mengekspresikan diri melalui tariannya. Urusan fisik telah masuk dalam wilayah bawah-sadar—seperti ketika kita menulis, tidak lagi berpikir bagaimana menuliskan huruf, tapi lebih pada topik yang ingin ditulis. Dengan terkosongkannya wilayah pikir atau perhitungan, spontanitas laku menjadi lancar, seperti “refleks” yang bergerak dengan sendirinya.

Tapi, dalam berkarya seni tidak sesederhana menuliskankan huruf yang sekedar untuk terbaca. Refleks tidak sekedar untuk merespons. Ada isi yang diungkapkan. Kesenian menyentuh wilayah rasa dan jiwa yang tidak sejelas verbal dan hitungan. Perasaan itu bukan tidak jelas, ia bisa sangat jelas bagi yang merasakannya, tetapi hanya sebagian kecil saja yang bisa dijelaskan dengan bahasa verbal, sebagian lagi tidak bisa dijelaskan pikiran. Soalnya, dalam menjelaskan, walau tidak diucapkan, penjelasan pikiran kita melalui media bahasa, bahasa-ibu ataupun bahasa-asing. Sedangkan pengungkapan rasa dalam kesenian memakai media ganda dan kompleks, seperti melalui gerak tubuh dan bunyi. Tubuh dan bunyi memiliki “bahasa” yang tersendiri.

Karena kompleksnya bahasa-ungkap kesenian, ia menjadi multi tafsir, bersifat subjektif, tergantung dari yang mengungkapkan dan yang menerimanya, dan juga tergantung konteks kehadirannya. Dalam sastra, kata “paha” bisa memiliki makna yang lain, yang tidak sekedar pengertian verbalnya, melainkan juga makna dari bunyinya. Kita lihat misalnya pada sampiran pantun yang dilantunkan penyanyi sakeco dari Sumbawa berikut ini:

Pohon kelapa sebesar paha

pohon kemiri tidak berduri…

Pengertian verbal dan bunyi dalam dua baris sampiran itu melahirkan imajinasi dan rasa tersendiri. Rasa memberi suatu kepuasan sehingga kita tidak mempertanyakan logisnya, paha siapa yang sebesar pohon kelapa? Dan, tidak pula mempertanyakan mengapa pada baris keduanya tidak memakai “pohon kemiri sebesar jari” yang sama-sama melahirkan rima, dan yang lebih sejajar dengan perumpamaan baris pertama. Jika “sebesar jari” adalah keterdugaan (logis) dari pendengar, “tidak berduri” merupakan kejutan, lompat dari dugaan itu. Kejutan itu sendiri melahirkan suatu energi, merupakan bagian dari “imaji.”

Itu pula yang mungkin membuat sampiran pantun lebih banyak memenrcikkan imaji, karena bukan isi yang menjadi makna sesungguhnya, yang dimaksudkan oleh pikir, yang lebih verbal, seperti dalam dua baris isi pantun itu:

Mari kita berusaha

lestarikan budaya sendiri.

Itu hanyalah suatu contoh sederhana untuk mengatakan bahwa dalam kesenian antara yang logis (yang diketahui, disadari, dimengerti) dan yang tidak, merupakan suatu kesatuan makna atau daya; kesatuan antara yang diketahui dan yang tidak, antara wilayah sadar dan bawah sadar. Jika hanya ada isi dalam pantun, ia menjadi tidak menarik. Juga jika kita hanya mendapat satu baris saja dari sampiran itu, kita hanya akan mendapat arti harafiahnya saja. Imaji tidak tumbuh di luar arti, tidak tumbuh daya lain yang memberi getar. (Karena itu pantun yang dianggap hebat adalah yang kedua sampiran dan isi-nya memiliki daya atau imajinasi yang kuat).

Baru-baru ini saya mengamati proses latihan tari untuk Opera Gandari di Salihara. Koreografer utamanya adalah SU Wen Chi dari Taiwan, yang berlatih intensif dengan dua penari dan koreografer profesional dari Jawa, Danang Pamungkas dan Luluk Prasetyo. Wen Chi tidak mulai dengan koreografi yang dia susun. Alih-alih, ia mulai dengan berlatih bersama, untuk mengenali dan menghidupkan tubuh masing-masing. Ada empat pendekatan metodenya eksplorasinya yang ia sebut: tubuh (organisma), psikologi (isi, maksud), mimpi (gaib), dan robotik (bentuk). Tubuh untuk menghidupkan sel-sel organik yang secara kodrati dimiliki masing-masing; psikologi untuk mencerna dan menginterpretasikan-ulang tema cerita Gandari; mimpi untuk menumbuhkan kepekaan terhadap ilham-ilham yang datang dari keentahan; dan robotik untuk menganalisa bentuk fisik dari gerakan-gerakan yang terlahir dari improvisasi mereka. Menurut Wen Chi, keempat aspek itu memiliki daya masing-masing. Maka ia berusaha untuk membuat “simfoni” dari keempatnya, untuk melahirkan karya unik di satu sisi tapi alamiah di sisi lain—melalui latihan yang intensif.

Pendekatan Wen Chi ini memberi penjelasan yang lebih rinci bahwa di dalam berkesenian aspek ketahuan (robotik dan psikologi) dan keentahan (tubuh, mimpi) merupakan dua hal yang penting dalam kelahiran daya-ungkap. Penciptaan kesenian tidak melulu meng-otak-atik desain secara fisik, ia juga lahir dari pengalaman-pengalaman laku empiris yang kompleks.

C. Antara Seni dan Religi

Jika di atas disampaikan bahwa kegaiban merupakan salah satu aspek penting dalam kesenian, itu menunjukkan terkaitnya antara seni dan religi. Tiada agama yang tidak menyentuh wilayah gaib. Kegaiban juga yang membuat manusia tidak berhenti berpikir, mencerna, menginterpretasi, mencari, dan bertindak atau berkarya. Seni dan religi berhubungan dan tumbuh dialektis, dialogis, sehingga satu sama lain saling memberi energi, memberi nilai manfaat.

Seniman adalah juga mahluk beragama. Maka ajaran dan laku keagamaannya, pengalaman spiritualnya, memberi modal dan daya dalam melahirkan kesenian. Dengan itu, maka kesenian bukan hanya sebagai “alat” untuk kepentingan agama seperti diuraikan dalam bagian awal tulisan ini, melainkan agama juga merupakan subjek yang memberi daya pada seniman dan kesenian. Kita lihat lukisan kaligrafi di bawah ini:

[Caption]: Lukisan kaca Ärjunawiwaha, karya Rastika dari Gegesik, Cirebon, ca. 2000. dan penjabaran teks panahnya.

Lukisan ini merupakan suatu karya seni dari seniman yang mengungkap makna atau memuja nilai “bismillahirrahmanirahim.” Ayat suci yang dia anut, memberi gagasan imajinatif, yang kemudian diwujudkan pada karya seni. Tapi sebagai seniman ia lebih ingin mengungkapkan nilai atau daya ayat itu melalui karya seni, ketimbang membuat karya (huruf) untuk khotbah. Huruf menjadi lukisan yang sulit dibaca. Huruf yang membentuk panah, misalnya, diulur panjang tidak proporsional. Jadi, lukisan itu bukan agar teks menjadi indah dan tetap mudah dibaca, melainkan untuk mengekspresikan daya, enerji, atau imajinasinya.

Dengan demikian, suatu “properti” keagamaan setelah dilukiskan bukan menjadi sekedar lebih bagus”, tapi melahirkan daya ungkap yang tersendiri—lepas dari sejalan atau tidaknya dengan makna ajaran normatif. Kesenian merupakan sentuhan tangan manusia (duniawiah) terhadap materi keagamaan (illahiah) menurut penafsiran dan kemampuan insan dalam memaknainya. (Di situlah letak dan fungsi kebudayaan dalam wilayah keagamaan).

Seniman ini melukis berdasar pengalaman religiusitasnya di satu sisi, dan kemampuan teknis melukis dan menulisnya di sisi lain. Pergumulan lain dari Sang Seniman yang terpercik dari lukisan ini, adalah hubungannya dengan bidang pewayangan. Ia memiliki kemampuan menggambar wayang, memahami cerita Arjunawiwaha. Kesakralan “bismillahirrahmanirahim” ia tulis dalam wujud anak panah sakti (Pasupati) yang diberikan Batara Guru pada Arjuna pada waktu ia bertapa di Gunung Indrakila, untuk membunuh raja raksasa Niwatakwaca yang serakah.

Huruf yang lebih sulit lagi dibacanya adalah yang membentuk tubuh dan tangan Arjuna—selain, tentu saja, tidak semua garis dan warna bisa dibaca atau diartikan. Tapi semua yang hadir dalam “kanvas” ini bermakna: yakni makna lukisan. “Simfoni” keseluruhan dari yang memiliki arti verbal dan yang tidak itulah yang membuat keutuhan karya seni, keutuhan daya ungkapnya—serupa dengan kasus pantun di atas.

Dalam ungkapan Minangkabau, kesenian memiliki aspek yang tasurek (tersurat), tasirek (tersirat), dan tasuruak (tersembunyi). Keseninan menampakkan sesuatu, tapi sekaligus menyembunyikannya. Ada nilai dan simbol dalam kesenian, yang tidak mesti secara sengaja dtampakkan atau disembunyikan, tapi tertampakkan dan tersembunyikan. Simbol terlahir bukan dibuat, seperti halnya identitas-budaya, suku, atau kepercayaan. Ia tidak lahir eksplisit seperti halnya slogan-slogan, melainkan terlahir dari laku hidup yang panjang.

Ada hal menarik lainnya yang muncul dari lukisan itu: bercampurnya antara keagamaan yang dia anut (Islam) dengan cerita yang Hindu (Arjunawaha, ditulis Empu Kanwa pada awal abad ke-11 di Jawa Timur). Bentuk dan cerita wayang, oleh senimannya dianggap sebagai vokabuler warisan budaya dari jaman dahulu, sedangkan Islam adalah kepercayaan yang ia pegang masa kini.

Kasus-kasus seperti itu, mengadopsi khasanah budaya agama-agama yang berbeda menjadi bagian dari agama yang dianutnya, sangat banyak ditemukan. Bedug, yang seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari mesjid, terdapat di seantero Nusantara, sejarahnya berasal dari klenteng (Kong Hu Chu, Budha, China). Batu nisan di makam-makam Muslim yang berbentuk gunung atau lingga; gamelan sekati (atau sekaten), digunakan untuk upacara Maulid Nabi Muhammad (dan Idul Fitri dalam kasus Keraton Kasepuhan Cirebon); tari barong ider bumi dan seblang di Banyuwangi; dan banyak lagi kasus-kasus serupa, terdapat di setiap pelosok bumi. Masyarakat penganut suatu agama, tidak (selalu) mempersoalkan untuk mengadopsi properti, pengetahuan, atau nilai-budaya yang berasal dari kelompok agama lain—sepanjang itu dipandang menambah manfaat demi kehidupan.

Dalam berkesenian, pada tingkatan tertentu, terdapat kebebasan untuk mengikuti aturan atau pakem-pakem dogmatik. Kebudayaan selalu hidup dalam proses akulturasi, selalu dalam proses menjadi. Ia hadir dan tumbuh dalam kancah peradaban umat. Seni dan religi adalah bagian dari kompleksitas sistem hidup. Karena itu akanlah sulit, kalau bukan mustahil, untuk memilah-milah secara dikotomis antara kesenian milik suatu-agama dengan kesenian milik agama-lain.

Pameran Religi dan Kesenian Nusantara di Museum Nasional ini, akan menunjukkan kompleksitas itu. Pameran ini bukan merupakan instrumen anjuran ataupun larangan terhadap para pengunjung untuk mempercayai atau mengikuti salah satu pandangan, melainkan untuk menyaksikan dan memahami realitas. Ia akan meningkatkan pengetahuan kita melalui akses pada pelbagai khasanah kesenian, yang akan menantang kita semua untuk mencermatinya. Koleksi museum adalah benda-benda mati, tapi akan hidup justru melalui pameran serupa ini, melalui terjadinya pengamatan, penikmatan dan penalaran, penafsiran kita semua. Koleksi yang banyak ini, sebagian mungkin bisa “terbaca,” sebagian tidak, dan sebagian lagi setengah-setengah. Yang perlu hidup, bukanlah barangnya yang mati itu, melainkan kecerdasan dan kearifan kita yang memandangnya. Keentahan bisa menggelisahkan, tapi juga bisa mendorong kita untuk terus berpikir dan mencari. Ia menjadi rangsangan untuk menumbuhkan kecerdasan. Ungkapan Minangkabau tasurek, tasirek, dan tasuruak seperti disampaikan di atas, membantu kita dalam menyikapi keterbacaan dan ketakterbacaan. Yang jelas dan yang misterius, keduanya melahirkan getar energi yang memberi kenikmatan, kebahagiaan.

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.