Agama

Pergulatan Islam, Kebudayaan, dan Modernitas

Oleh K.H. Maman Imanulhaq Faqieh

Dalam konteks bangsa kita, Indonesia, pondok pesantren bukan hanya membangun tradisi ilmiah (keilmuan) dengan kiai dan ajengansebagai sentral intelektual par-excellent, tetapi juga telah membangun tradisi maupun budaya yang memosisikan masyarakat tidak hanya sebagai obyek, melainkan sebagai subyek yang kelak secara bersamaan menyusun “strategi kebudayaan”. Di sini, kreatifitas dalam tradisi dan kebudayaan berkaitan dengan konteks makro perubahan-perubahan yang ada pada lapis struktur masyarakat yang sangat beragam.

Menuju Pemahaman Pluralisme Seni, Tradisi, dan Agama

Tantangan modernitas yang bercirikan industrialisasi dan globalisasi dengan dominasi dan hegemoni negara-negara maju (developed countries) di segala bidang, menuntut setiap anggota masyarakat global untuk mengambil sikap antisipatif. Terlebih Indonesia, yang dilihat dari seluruh sudut pandang geologis, historis dan budaya, sangat beragam dan kompleks, tetapi kurang memiliki sumber daya manusia yang memadai.

Agama, Negara, dan Kebudayaan

Makalah Abdul Moqsith Ghazali dalam Seminar PSN "Menengok-Ulang Multikulturalisme di Indonesia" di Gedung Graha Bakti, Mataram NTB, 21 Juli 2009

Wilayah Tafsir dalam Agama dan Seni

Realitas bangsa yang terpuruk dalam ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan dan kemunduran, meniscayakan kita untuk menghadirkan tafsir terhadap keseluruhan dimensi dan aspek yang berkaitan dengan kehidupan. Tafsir menjadi penting untuk mengurai berbagai problematika kehidupan berbangsa serta menyelamatkan publik dari tafsir tunggal dan semena-mena yang akan menyeretnya pada perpecahan. Penafsiran adalah ciri khas manusia, karena manusia tak dapat membebaskan diri dari kecenderungan dasarnya untuk memberi makna. Man is condemned to meaning, kata Merleau Ponty.

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.