Goenawan Mohamad

Goenawan Soesatyo Mohamad adalah sastrawan Indonesia terkemuka. Ia adalah pendiri dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo. Ia juga seorang aktivis kesenian yang turut menandatangani Manifes Kebudayaan pada 1963, di masa Demokrasi Terpimpin. Setelah Tempo dibredel pada 1994, ia turut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai wadah perjuangan kaum jurnalis di bawah rongrongan Orde Baru. Ia juga mendirikan Komunitas Utan Kayu (1995-2008) yang kemudian berubah menjadi Komunitas Salihara (2008- sekarang).

GM demikian ia akrab disapa, lahir di Batang, sebuah kota kecil di utara Jawa pada 29 Juli 1941. Ia pernah kuliah di Jurusan Psikologi, Universitas Indonesia, namun tak selesai. Ia lalu menempuh pendidikan ilmu politik di College of Europe, Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat.

Pada tahun 1971, ia bersama Fikri Jufri mendirikan majalah Tempo. Majalah ini mengusung jurnalisme investigasi dan sastrawi dalam berita dan laporannya sehingga memikat para pembacanya. Tempo menjadi majalah sosial-politik papan atas di Indonesia. GM menjabat sebagai pemimpin redaksi. Ia juga menulis esei di rubrik Catatan Pinggir. Pada 1994, Tempo bersama Detik dan Editor dibredel oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap membahayakan stabilitas nasional setelah menurunkan laporan tentang skandal pembelian kapal bekas dari Jerman Timur oleh pemerintah Orde Baru. Laporan ini dianggap menyudutkan Habibie dan Soeharto. Setelah Orde Baru tumbang pada 1998, Tempo berdiri lagi dan bertahan sampai sekarang, namun GM memutuskan untuk tidak lagi menjabat pemimpin redaksi.

Sebagai seorang sastrawan, GM produktif menulis puisi, esei, dan naskah teater. Buku kumpulan puisinya antara lain Parikesit (1969), Interlude (1971), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Dalam puisi-puisinya Buku yang terakhir diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Laksmi Pamuntjak dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004). Puisi-puisi GM dinilai membawa gaya baru. Para kritikus menyebutnya puisi suasana. Selain puisi, GM juga aktif menulis esei dan kritik sastra. Buku-bukunya antara lain Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002), dan Catatan Pinggir 1-10. GM juga menulis sejumlah naskah teater, antara lain drama tari Panji Sepuh (1993), naskah untuk wayang kulit Jawa Wisanggeni (1995), Alap-Alap Surtikanti (2002), Tan Malaka dan Dua Lakon Lain (2008). Disamping itu, dua libretto dalam bahasa Inggris untuk opera kontemporer Kali (dipentaskan di Seattle, USA, tahun 2000), dan The King’s Witch (dengan Tony Prabowo, dipentaskan sebagai konser di Lincoln Center, New York, USA tahun 2001). Pada 23-24 April 2011, bersama Tony Prabowo, ia mementaskan Opera 3 Babak Tan Malaka di Graha Bhakti Budaya, TIM. Opera ini adalah karya operanya yang pertama dalam bahasa Indonesia. Pada pementasan ini, ia bertindak sebagai sutradara. Sebelumnya, ia menyutradarai tari klasik Dirademata dari Keraton Mangkunegaraan, Solo, yang dipanggungkan di Teater Salihara (2009).  

Kini, GM aktif mengurusi Komunitas Salihara, sebuah kantong kesenian di Jl. Salihara No. 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia juga didaulat menjadi Ketua Komite Indonesia untuk  Frankfurt Book Fair 2015. Di perhelatan pamaren buku terbesar di dunia ini, Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour).

Share: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.